Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Pantai Keburuhan Dihajar Abrasi


Pesisir pantai Pasir Puncu yang berada di Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Purworejo terancam hilang ditelan abrasi pantai. Kondisi itu dipicu cuaca buruk yang terjadi beberapa hari terakhir. Proses abrasi terlihat semakin parah dan kritis setelah gunungan pasir yang terbentuk secara alami juga menutup muara sungai Jali.
Berdasarkan pantauan Radar Jogja, kerusakan paling nyata ditandai dengan hilangnya tiga warung milik Sarjo, 45, akbiat tersapu ombak. Arus air sungai Jali nampak nyata terhambat gunungan pasir yang telah membelokkan arus dan menerjang sisi timur muara.
Daratan pantai Pasir Puncu yang awalnya menjorok ke laut juga telah tergerus ombak, tubir pantai yang memanjang sejauh 200 meter dengan ketinggian sekitar 4 meter telah amblas. Paving pelataran tempat pelelangan ikan (TPI) Pantai Keburuhan juga terlihat berserakan dan sebagian hilang.
Warung-warung milik penduduk yang tersisa kini cukup bediri tepat di atas tebing pantai yang dulunya langsam. Hamparan pasir luas kini berubah menjadi cekung yang lumayan tajam dengan ketinggian empat meter, jika angin datang dan mengakibatkan gelombang, ombak telah mampu menjilat daratan yang dulu jauh menjorok ke laut itu.
Tek pelak, rusaknya bangunan warung yang tersisa dan bangunan penting lainnya kini hanya tinggal menunggu waktu saja. Terlebih jika proses abrasi itu dibiarkan saja. Bisa dipastkkan, dengan cuaca yang masih cukup buruk hingga akhir bulan Januari 2010, beberapa bangunan penting yang ada di Keburuhan ikut terancam amblas.
Bangunan penting itu salah-satunya yakni TPI, bengkel kapal, fasilitas MCK, tempat parkir, dan juga pos pemantau milik TNI angkatan laut yang juga berada di pinggir pantai tersebut.
Kepala Desa (Kades) Desa Keburuhan, Suwito mengatakan, peristiwa abrasi paling parah terjadi Jumat (28/1) lalu. Ombak setinggi lebih dari lima meter telah memporak-porandakan tiga warung. "Paving sepanjang 50 meter juga rusak dihantam ombak. Paving yang terserak sebagai sisa abrasi kini sebagian sudah diselamatkan warga," teragnya, Selasa (1/2) kemarin.
Suwito mengatakan, abrasi masih terus terjadi hingga sekarang (1/2). Sementara munculnya gunungan pasir yang terbentuk oleh angin ke arah barat selama bulan Januari telah membuat gunungan pasir tinggi dan menutup muara.
Di bagian barat muara, sambung Suwito, ada bangunan jeti peninggalan Belanda dan penambahan pembangunan tahun 2008 cukup kuat menahan arus air dan gempuran ombak. Sehingga arus air dan hantaman ombak justru mengancar bagi timur muara yang polos tanpa bangunan jeti. "Hanya beberapa hari, gerusan air telah menggerus sisi timur," imbuhnya.
Lebih lanjut Suwito menjelaskan, jika pemerintah khususnya otoritas yang mengelola sungai Jali tidak segera mengambil tindakan penanganan, kerusakan akan semakin parah dan menghancurkan bangunan yang sudah ada kini. "Kami berharap pemerintah Kabupaten Purworejo cepat melakukan langkah, pasalnya kondisi pantai sini sudah demikian kritisnya dan butuh penanganan cepat," harapnya.
Tiga warga Keburuahn yang juga pemilik warung yang kini terancam Tuminah, 39, Harjo Suwito, 50, dan Sri Hadi, 52, juga memiliki harapan yang sama. Warga mengharap sebuah penanganan cepat supaya abrasi tidak terus merembet dan merusak bangunan yang tersisa.
Terpisah, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Purworejo, Drs Agu Budi Supriyanto mengatakan, penanganan dampak abrasi sudah dikoordinasikan bersama instansi terkait dari Dinas Pengairan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU), dan Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Pariwisata (Dishubkominpar).
"Secara teknis, penanganan abrasi ini memerlukan anggaran yang cukup besar, maka dari itu perlu dikomunikasikan dengan instansi pusat. Sedangkan untuk pemilik warung yang rusak akan kita berikan bantuan dari pos dana tak terduga," pungkasnya. (tom)

Sumber: Radarjogja

Read More......

Selasa, 11 Januari 2011

Lalu Lintas Jalur di Purworejo Meningkat

Purworejo, CyberNews. Arus lalu lintas di jalan raya Purworejo-Magelang mengalami peningkatan dalam kurun waktu dua hari terakhir. Meskipun belum terlalu padat, namun jumlah kendaraan yang melintas di jalur ini lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa.

Kondisi itu terjadi sebagai dampak tertutupnya jalur Magelang-Yogyakarta akibat banjir lahar dingin hebat yang terjadi Minggu (9/1) malam. Banyak kendaraan dari arah Semarang yang hendak menuju Yogyakarta memilih memutar melalui Purworejo.

Meskipun jarak tempuhnya lebih panjang, namun jalur Purworejo-Magelang menjadi alternatif untuk menuju Yogyakarta. Para pengendara berpikir lebih baik memutar dengan jarak tempuh yang agak jauh daripada berisiko terkena banjir lahar dingin atau terjebak kemacetan dalam waktu lama.

Dari pantauan, di wilayah Kecamatan Bener yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Magelang, kendaraan yang berasal dari arah Magelang jumlahnya jauh lebih banyak. Baik itu kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Termasuk juga beberapa bus angkutan umum tujuan Yogyakarta, yang memilih memutar lewat Purworejo.

Lebih Panjang

Dengan memutar melalui Purworejo, jarak tempuhnya memang lebih panjang. Dari Magelang ke Yogyakarta jarak tempuhnya sekitar 30 KM. Sedangkan jarak tempuh Magelang-Purworejo sekitar 40 KM, dan Purworejo-Yogyakarta 60 KM. Dengan demikian jika memutar melalui Purworejo jarak tempuhnya bisa tiga kali lipat.

Andriyanto (42), salah satu pengendara yang ditemui saat melintas di jalan Purworejo-Magelang mengungkapkan, dia bersama keluarganya yang baru saja dari Semarang memang sengaja memutar lewat Purworejo menuju ke Yogyakarta.

"Melihat berita banjir lahar dingin di Magelang miris. Ada sebuah bus yang terjebak banjir dan akhirnya terpendam pasir sekitar dua meter. Daripada berisiko lebih baik memutar meskipun agak jauh tapi kan lancar," katanya.

Kirlan (49), salah satu sopir mobil angkutan barang mengatakan, dia juga terpaksa memutar lewat Purworejo untuk mengantarkan barang ke Yogyakarta. "Sebenarnya biayanya lebih besar karena jaraknya lebih jauh. Tapi mau bagaimana lagi
kondisi jalur di Magelang tidak bisa dilalui," katanya.

Warga berharap kondisi jalur di Magelang bisa segera normal. Sebab dalam keadaan seperti ini aktifitas perekonomian juga sangat terganggu. "Semoga saja bisa segera normal," harap Kirlan.

Sumber: Suaramerdeka

Read More......

Minggu, 09 Januari 2011

Ratusan Warga di Purworejo Direlokasi

Purworejo, CyberNews. Ratusan warga yang terdiri dari 51 Kepala Keluarga (KK) korban tanah longsor di Desa Giyombong, Kecamatan Bruno, Purworejo direlokasi ke rumah hunian yang aman. Rumah bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI itu pengerjaannya bekerja sama dengan Mabes TNI yang dalam hal ini ditangani sepenuhnya oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 0708 Purworejo.

Setelah pembangunannya selesai sebulan, rumah semi permanen itu secara resmi diserahkan dalam upacara yang digelar di lapangan Desa Giyombong, Sabtu (8/1) kemarin. Upacara itu dihadiri Komandan Resort Militer (Danrem) 072/Pamungkas Kolonel Kav Sumedy, Komandan Kodim (Dandim) 0708/Purworejo Letkol Inf Ade Adrian, Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain, Wakil Ketua DPRD RM Abdullah, Kapolres Purworejo AKBP Priyo Waseso, serta pejabat di lingkungan Muspika Kecamatan Bruno.

Danrem 072/Pamungkas, Kolonel Kav Sumedy dalam amanatnya mengatakan, kerjasama pembangunan rumah relokasi korban bencana di Giyombong adalah merupakan bentuk kemanunggalan TNI dengan rakyat. "Ini wujud nyata TNI yang juga punya tanggungjawab dalam penanganan bencana, " katanya.

Dia berharap masyarakat korban tanah longsor yang menempati hunian baru itu bisa mendapatkan keamanan dan rasa nyaman sehingga bisa menata kehidupannya supaya lebih baik. Kolonel Kav Sumedy juga mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Purworejo dan masyarakat Desa Giyombong yang telah membantu personil TNI sehingga pembangunan rumah hunian relokasi itu selesai sesuai target.

Dandim 0708 Purworejo, Letkol Inf Ade Adrian menjelaskan, rumah semi permanen itu ukurannya 5 x 6 meter dengan dua kamar dan diperuntukkan bagi warga yang rumahnya terkena longsor maupun rawan terkena longsor. Lokasi hunian bagi korban tanah longsor itu ditempatkan di Dusun Mentosari sebanyak 27 unit dan di Dusun Giyombong sebanyak 24 unit. "Dua lokasi itu merupakan tanah bengkok desa yang dari hasil kajian dinyatakan aman," katanya.

Mantan Danyon Taruna Resimen Chandradimuka Akmil Magelang ini menambahkan, rumah relokasi itu mulai dibangun pada 1 November dan selesai 30 Desember. "Pembangunannya memang dikebut. Setiap harinya anggota kami mulai mengerjakannya pukul 05.00 dan baru selesai sore hari," terangnya.

Lulusan Akabri AD tahun 1990 ini mengungkapkan, pihaknya menerjunkan 140 anggota TNI dari 16 Koramil. Selama pengerjaan, anggota TNI itu dibantu sekitar 70 masyarakat sekitar. "Kami sangat bersyukur sekali berkat kerjasama semua pihak, rumah sebanyak 51 unit selesai dikerjakan hanya dalam waktu dua bulan," jelasnya.

Bupati Purworejo, Drs H Mahsun Zain MAg dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Kemensos RI dan TNI, khususnya Kodim 0708 Purworejo yang telah membantu menangani bencana di Desa Giyombong. "Penanganan bencana memang menjadi tanggungjawab semua pihak. Program kemanunggalan TNI dengan rakyat seperti ini bisa menjadi model penangangan bencana yang bisa terus dikembangkan," katanya.

Kades Giyombong Yogi Santoso mengatakan, relokasi tersebut merupakan harapan ratusan warganya. Tanah longsor sering terjadi dan menimpa rumah warga saat hujan deras turun di Desa Giyombong. "Kebanyakan, warga memang tinggal di lokasi rawan, di sekitar rumahnya ada tebing atau jurang, dan sering longsor. Relokasi ini merupakan usulan kami kepada Bupati, yang akhirnya ditanggapi pemerintah pusat," tandasnya.

Sumber:Suaramerdeka

Read More......

Selasa, 28 Desember 2010

Puting Beliung Mengamuk di Purworejo

Purworejo: Hujan lebat disusul angin puting beliung menerjang kawasan Desa Jatikontal, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Senin (27/12) petang. Akibat kejadian itu, delapan rumah warga rusak parah di bagian atap, serta puluhan pohon tumbang. Beruntung dalam kejadian itu, warga sempat menyelamatkan diri sehingga luput dari bencana.

Menurut seorang warga, Trisno, angin puting beliung datang tiba-tiba dan memutar serta menyapu apa saja yang ada di sekitarnya. Ia juga mengatakan, suara angin puting beliung itu seperti bunyi bising mesin pesawat terbang. Salah satu rumah warga bahkan ada yang rata dengan tanah.

Kepala Desa Jatikontal, Suyanto mengatakan setelah angin reda, warga langsung mengevakuasi pohon yang tumbang dengan gergaji mesin. Selain itu, warga juga bergotong royong membersihkan puing-puing rumah yang rusak.

Sumber:Liputan6

Read More......

Minggu, 26 Desember 2010

Kawasan Tambang Kian Kritis


Kawasan pertambangan di wilayah Kabupaten Purworejo terutama Galian Golongan C kian kritis dan merusak lahan seperti degradasi lahan dan hutan.

“Sumber air bersih otomatis juga berkurang karena banyak sumber mata air yang mati akibat penggalian tanah dan batu,” jelas Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Purworejo H Said Ramadhon kepada KRjogja di ruang kasepuhan rumah dinas bupati setempat, Minggu (26/12).


Menurut Said kawasan yang semakin kritis berada di Kecamatan Kemiri dan melakukan penambangan di lahannya sendiri. Namun dampak terdahap lingkungan sekitar sangat terasa. Bahkan sering terjadi tanah longsor sehingga perlu mendapat dukungan penegakan hukum lingkungan dan penertiban perizinan Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) secara ketat agar kegiatan pertambangan lebih memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Upaya pengawasan, penegakan hukum dan penerapan saksi dapat dilakuan oleh penyidik pegawai negeri sipil (PPNS),” jelas Said Ramadhon yang juga Assisten Sekda Bidang Keuangan dan Pembangunan ini.

Selain itu lanjut Said Ramadhon, pengawasan sosial dapat dilakukan melalui system pengawasan masyarakat (Siswasmas) secara swadaya dengan membentuk gugus tugas di tingkat desa atau kelurahan.

Sumber:KRjogja

Read More......

Penjual Bibit Padi Lesu

Penjualan bibit padi lesu dan pedagang mengalami kerugian karena rusaknya bibit akibat banjir yang melanda Kecamatan Butuh dan Grabag, Kabupaten Purworejo.

“Kalau sudah terlalu tua tidak juga laku, bibit akan rusak karena sudah dicabut dari tempat persemaian,” ujar Padmopawiro (70) salah seorang pedagang bibit tanaman padi di Pasar Butuh, Purworejo, Minggu (26/12).

Menurutnya, bibit tanaman padi yang siap dipasarkan ini rata-rata hanya bertahan hingga beberapa hari. Maksimal satu minggu. “Jika tidak laku, sudah tidak bisa dimanfaatkan karena semakin lama tidak ditanam akan bertambah rusak,” jelas Padmopawiro.

Kondisi serupa dialami Tumijan (58), pedagang bibit tanaman padi di Pasar Kutoarjo, Purworejo. Kelesuan perdagangan bibit ini juga karena banjir yang berkepanjangan.

“Biasanya setelah banjir, petani banyak yang mencari bibit tanaman padi karena benih yang disemai atau bibit yang sudah siap ditanam rusak. Atau untuk tanaman susulan karena bibit yang sudah ditanam rusak, tapi ini banjir masih berkepanjangan sehingga petani belum membutuhkan bibit,” jelas Tumijan.

Diakui, untuk musim kali ini dirinya sudah menderita kerugian akibat bibit dagangannya rusak. “Semua benih sudah saya cabut dan dipasarkan, tapi baru laku sekitar 40 persen,” katanya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Senin, 13 Desember 2010

Tanggul Jebol Rendam puluhan Hektare Sawah

Purworejo: Puluhan hektare areal persawahan di Desa Wironoto, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, terendam banjir, Senin (13/12). Banjir disebabkan jebolnya Sungai Lesung yang tidak kuat menahan tingginya debit air hujan. Tanggul sepanjang lima meter itu pun merendam sedikitnya 40 hektare areal persawahan yang ada di sekitar sungai hingga kedalaman setengah meter.

Alhasil, petani terancam gagal panen pada musim tanam kali ini karena padi yang rata-rata baru berumur tiga minggu rusak tergenang air. Luapan Sungai Lesung jugamerendam pemukiman penduduk.

Warga kini menutup tanggul yang jebol dengan tumpukan karung berisi tanah, untuk menghindari banjir meluas. Mereka masih menunggu penanganan serius dari pemerintah dalam menangani musibah di wilayah yang merupakan salah satu sentra penghasil beras di Kabupaten Purworejo itu.
Sumber:Liputan6

Read More......

Minggu, 12 Desember 2010

Longsor Terjang Sepuluh Rumah

PURWOREJO- Bencana tanah longsor kembali terjadi di Kabupaten Purworejo. Sedikitnya sepuluh rumah mengalami kerusakan cukup parah setelah diterjang tanah longsor yang terjadi sepanjang Rabu (8/12) sore hingga Kamis (9/12) dini hari.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, namun satu orang warga Desa Kedunglo, Kecamatan Kemiri mengalami luka cukup serius setelah sempat terkubur longsoran tanah. Total kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Bencana tanah longsor paling parah terjadi di RT 03 RW 01 Dusun Jetak Kidul,
Desa Kedunglo, Kecamatan Kemiri. Dua rumah warga, masing-masing milik Anisman (27) dan Sukir (48) mengalami kerusakan setelah rumah bagian belakang diterjang tanah longsor dari tebing setinggi 30 meter yang berada di belakang rumah. Istri Anisman, Yuni (23) yang mengalami luka serius. Saat kejadian pukul 23.30, dia sedang terlelap tidur di kamar bagian belakang rumah yang tepat di bawah tebing. "Yuni sempat terkubur tanah dan hanya tangannya saja yang kelihatan," ujar Anisman.
Berusaha Menolong Dia dibantu warga sekitar langsung berusaha menolong. Butuh waktu satu jam untuk mengeluarkan Yuni dari kuburan tanah. Setelah berhasil dievakuasi, Yuni sempat memuntahkan tanah dan langsung dibawa ke rumah sakit Palang Biru Kutoarjo.

Perabotan rumah miliki kedua warga itu ikut terkubur, seperti kulkas, komputer, dan peralatan dapur. Kamis (9/12), puluhan warga sekitar bekerja bakti menyingkirkan material tanah.

Camat Kemiri Sudaryono SSos bersama Kasi Linmas Kantor Kesbangpolinmas Hardoyo mendatangi lokasi untuk menyerahkan bantuan. "Bantuan ini dari Pemkab Purworejo. Semoga bisa sedikit meringankan beban," ujar Sudaryono saat menyerahkan bantuan melalui kepala desa Kedunglo Misroni SE yang selanjutnya diteruskan kepada kedua KK yang menjadi korban.

Sutris (35), tetangga tepat samping rumah korban menyebutkan, longsor yang menimpa Yuni itu merupakan kali kedua. Sebelumnya pada pukul 16.00 sudah sempat terjadi longsor hingga mengakibatkan bangunan garasi mobil runtuh. Satu mobil angkutan dan satu sepeda motor sempat terkubur.

Kades Misroni menyebutkan, tanah longsor itu merupakan yang pertama kali terjadi setelah beberapa tahun tidak pernah ada bencana longsor. Sebelum longsor terjadi, hujan deras mengguyur sejak pukul 12.00 dan hujan baru reda pada pukul 20.00.

Kasi Linmas Hardoyo menjelaskan, kerusakan rumah di Kedunglo itu memang paling parah dikarenakan material yang menimpa bukan hanya tanah saja, tapi juga dapuran rumpun bambu dari atas tebing.

Sumber:SuaraMerdeka

Read More......

Kamis, 09 Desember 2010

Warga Giyombong Segera Direlokasi

Ratusan warga Desa Giyombong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, segera direlokasi. Ratusan warga dalam 51 kepala keluarga (kk) itu sedang menunggu proses pembangunan rumah di lokasi yang dinilai aman, selesai. Pembanguan rencananya akan selesai pada akhir Desember 2010.

Kini, ratusan warga Desa Giyombong dan personil TNI Kodim 0708 Purworejo kini sedang membangun sebanyak 51 unit rumah semi permanen. Sebanyak 24 rumah didirikan di lapangan sepakbola, Dusun Giyombong Kidul, sedangkan 27 lainnya pada tanah desa di Dusun Mentosari.

Komandan Kodim 0708 Purworejo, Letkol (INF) Adi Adrian, mengatakan, pembangunan tersebut menggunakan bantuan dari Kementerian Sosial RI yang bekerjasama dengan Mabes TNI di Jakarta. Rumah semi permanen tersebut dibangun dengan ukuran 4 x 6 meter, dan memiliki dua kamar. "Rencananya, rumah itu akan ditempati keluarga korban longsor tahun 2009 lalu dan yang terancam bencana itu," ujarnya kepada KRjogja.com, Kamis (9/12).

Menurutnya, pembangunan pemukiman tersebut menghadapi masalah cuaca dan medan yang berat. Setiap hari, hujan mengguyur kawasan Kecamatan Bruno. Selain itu, jalan desa yang rusak berat, sempit, diapit jurang, dan penuh tanjakan terjal menghambat kelancaran transportasi bahan bangunan menuju lokasi pembangunan. "Meski demikian, TNI dan warga tetap membangun, sehingga rumah bisa selesai dan ditempati pada tahun 2011 mendatang," imbuhnya.

Lurah Giyombong, Yogi Santoso, menambahkan, relokasi tersebut merupakan harapan ratusan warganya. Tanah longsor sering terjadi dan menimpa rumah warga saat hujan deras turun di Desa Giyombong. "Kebanyakan, warga memang tinggal di lokasi rawan, di sekitar rumahnya ada tebing atau jurang, dan sering longsor. Relokasi itu merupakan usulan kami kepada Bupati, yang akhirnya ditanggapi pemerintah pusat," bebernya.

Penentuan kepemilikan 51 rumah yang kini sedang dibangun tersebut, dilakukan dengan undian. Meski demikian, ada delapan kepala keluarga yang juga terancam, namun tidak mendapat jatah bantuan rumah. Saat dilakukan pendataan, rumah delapan warga tersebut tidak dikategorikan rawan tanah longsor. "Namun, kini rumah mereka sudah terancam, sehingga kami menyediakan tanah dan delapan keluarga itu membangunnya sendiri. Mereka sudah menyanggupi," paparnya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Rabu, 08 Desember 2010

Diterjang Longsor, Jalan Magelang - Purworejo Buka Tutup

Hujan lebat yang terjadi di Kabupaten Purworejo, Selasa (7/12) petang, mengakibatkan tebing setinggi 20 meter Desa Ketosari, Kecamatan Bener. longsor menutup jalan raya Magelang - Purworejo. Akibatnya, hingga Rabu (8/12) siang, warga memberlakukan sistem buka tutup untuk melancarkan arus lalu lintas.

Bahkan, sekitar satu jam setelah tanah longsor, arus yang melintas jalan tersebut mengalami kemacetan sepanjang satu kilometer. Sistem buka tutup
dilaksanakan lantaran belum seluruh badan jalan bersih dari material longsoran. "Semalam macet hingga satu kilometer. Sebab, material tanah menutup seluruh badan jalan," ujar Yadi, warga Desa Ketosari, kepada KRjogja.com, Rabu (8/12).

Puluhan warga dibantu polisi dan TNI langsung membersihkan material longsoran yang menutup jalan. Sekitar pukul 19.00 WIB, jalur sudah mulai bisa dilalui kendaraan.

Longsor tersebut merupakan kejadian kedua dalam sepuluh hari terakhir. Sebelumnya, tanah longsor juga terjadi pada lokasi yang sama. Menurutnya, tebing di sepanjang jalan raya Magelang - Purworejo labil dan mudah longsor jika diguyur hujan.

Meski puluhan warga sudah bekerjabakti, material tanah yang menutup sebagian badan jalan. "Kami kesulitan membuang tanah dengan alat seadanya. Agar jalan segera normal, butuh alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Purworejo," tegasnya.

Read More......

Tanah Longsor di Purworejo Tutup Jalur Pedesaan

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo mengakibatkan tanah longsor sejumlah titik. Bencana ini juga mengakibatkan jalur-jalur utama pedesaan tertimbun material longsoran.

“Longsor paling berat terjadi di Desa Cepedak. Menutup jalan poros desa sehingga kendaraan tidak bisa lewat,” ujar Camat Bruno T Martono.

Tanah longsor terjadi pada, Rabu (8/12) dini hari. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun sejumlah rumah penduduk terancam. “Tadi pagi di Desa Plipiran (juga Kecamatan Bruno) tanah bebatuan longsor, dan mengancam enam rumah penduduk yang berada di bawahnya,” jelas Martono.

Kemampuan warga masyarakat melakukan kerja bhakti untuk membuka jalur pedesaan sangat terbatas karena terjadi di banyak titik. “Kami membutuhkan bantuan alat berat untuk menyingkirkan material longsoran yang menutup jalan. Terutama di jalan Poros Cepedak,” jelasnya.

Read More......

About This Blog

Blog ini berisi kumpulan berita dari berbagai sumber.

Terutama yang berhubungan dengan Purworejo.

Semoga bisa membantu anda mengenal kota ini lebih dalam.

Terimakasih.

Berita Purworejo 2010 Presented By d-_-b

Back to TOP