Tampilkan postingan dengan label Pembangunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembangunan. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Kontainer Oleng, Semen 46 Ton Berceceran ke Sawah

Purworejo, Kerusakan jalan di Kabupaten Purworejo kembali memicu terjadinya kecelakaan. Sebuah truk kontainer bernomor Z 9007 KP, yang mengangkut 46 ton semen terperosok dana masuk sawah di jalan raya lingkar utara Kelurahan Lugosobo, Kecamatan Gebang, Purworejo, Senin (14/3).

Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Namun semen yang diangkut berceceran tumpah ke persawahan. Kaca depan mobil kontainer tersebut juga pecah. Selain itu, tanaman padi yang baru berumur 20 hari juga rusak parah karena ditimpa badan mobil. Kecelakaan ini juga sempat menyebabkan arus lalu lintas di jalur itu mengalami hambatan.

Sopir truk Aan Wahyu Rusmana, warga Sawujaya, Kawaluh, Tasikmalaya didampingi kernetnya Doyeh warga Majenang, Cilacap menceritakan, semen tersebut diangkut dari Tuban Jawa Timur untuk dibawa ke Tasikmalaya. "Saya sudah terbiasa lewat jalur ini, memang kondisinya rusak parah. Tapi mungkin kali ini sedang apes saja. Harapannya pemerintah bisa segera memperbaiki jalan rusak ini supaya tidak terus menjadi penyebab kecelakaan," katanya.

Aan menceritakan kejadian tersebut, kecelakaan itu bermula saat dia melewati jalan lingkar utara Purworejo, pada saat itu hujan deras mengguyur. Lubang jalan tertutup air, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas. Tiba-tiba ban masuk ke dalam lubang dan dia langsung membanting stir ke kanan. akhirnya, truk masuk ke persawahan.

Sumber: suaramerdeka

Read More......

Minggu, 16 Januari 2011

Sejumlah Titik di Jalur Wonosobo - Purworejo Alami Kerusakan


Sejumlah titik jalan di jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Purworejo mengalami kerusakan. Kondisi diperparah pada beberapa bagian tikungan jalan tanpa di lengkapi dengan rambu lalu lintas.

Belasan tikungan di jalur tersebut, banyak aspalnya yang mengelupas dan terdapat kubangan genangan air yang cukup dalam. Diduga, aktivitas pengangkut barang yang melebihi kapasitas menjadi penyebab rusaknya jalan. Pantauan di lapangan, dari arah pasar Sapuran hingga Desa Slumut Kecamatan Kepil terdapat sebanyak 46 tikungan.

Dari jumlah tikungan itu, 15 di antaranya merupakan tikungan tajam dan sisanya merupakan tikungan sedang. Tingkat kerusakan jalan pada setiap tikungan di jalur Sapuran-Slumut ada sekitar 50 persen atau sebanyak 13 tikungan di antarnya rusak dan berlubang.

Sementara di jalur Slumut hingga Burat Kecamatan Kepil terhitung ada sebanyak 15 tikungan, sembilan tikungan di antaranya adalah tikungan tajam dan lima dari jumlah tikungan yang ada tersebut rusak dan berlubang penuh genangan air.

Kondisi yang parah juga terjadi di wilayah Burat hingga Kemiri yang merupakan perbatasan Kabupaten Wonosobo dengan Purworejo. Pada jalur ini terhitung sebanyak 35 tikungan. Sebanyak 21 tikungan tergolong tajam dan dari jumlah itu lima tikungan diantaranya mengalami kerusakan dan berlubang dengan genangan air.

Tiap Tahun

Suwarto (45), salah seorang sopir truk asal Kepil saat ditemui mengatakan jalan Wonosobo-Purworejo setiap tahunnya memang rusak.Menurutnya hal itu sangat mengganggu aktivitas angkutan barang yang telah menjadi mata pencahariannya.
"Jalan disini banyak yang berlubang," katanya.

Dia mengaku, saat hujan pengemudi harus berhati-hati, utamanya pada setiap jalur tikungan, yang rata-rata berlubang pada bagian tengah atau tepi jalan. Suwarto yang sudah menjadi sopir bertahun-tahun ini mengusulkan supaya ada perbaikan dan pelebaran di jalur yang menghubungkan kedua kabupaten tersebut.

Selain itu perlu, lanjut dia, jalur ini perlu dipasang rambu-rambu lalu lintas pada setiap tikungan yang karena sangat membahayakan kendaraan yang melintas. Dia pun mengusulkan jalur ini juga diberi penerangan tambahan karena, penerangan di jalur Wonosobo-Purworejo juga sangat minim.

Hal yang sama juga diungkapkan salah seorang sopir bus jurusan Wonosobo-Purworejo, Talatas (35).Menurutnya kondisi jalan yang rusak mempengaruhi jam operasional bus dari kedua arah. "Jalan pada berlubang merusak kendaraan," katanya.

Jalur Wonosobo-Purworejo merupakan jalan milik provinsi. Jalur ini dari hari ke hari bertambah ramai mengingat banyak pabrik yang berdiri di wilayah tersebut. Jalur tersebut juga menjadi salah satu jalur utama masyarakat yang ingin ke Purworejo dan Yogyakarta.

Sumber: Suaramerdeka

Read More......

Kamis, 13 Januari 2011

Penertiban PKL Libatkan Polres dan Dishubkomipar

Penertiban pedagang kaki lima (PKL) oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kabupaten Purworejo terus berlanjut. Bahkan pada hari ketiga, Kamis (13/1), dalam penertibkan PKL ini Satpol PP melibatkan Polres Purworejo dan Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Pariwisata (Dishubkomipar).

“Kita libatkan Polres dan Dishubkomipar, karena lembaga ini ada keterkaitannya dengan keberadaan PKL,” jelas Kepala Satpol PP Purworejo Tri Joko Pranoto SSos.

Penertiban ini berlanjut hingga jalur-jalur gang atau longkangan di Terminal Kongsi Purworejo. Di jalur sempit ini dipenuhi PKL, padahal jalur utama masuk terminal Angkutan Pedesaan (Angkudes). “Kita libatkan Dishubkomipar dan Polres karena memiliki kewenangan mengatur jalur dan keamanan lalu lintas,” jelas Tri Joko Pranoto.

Selain di Jalan Longkangan Terminal Kongsi, penertiban PKL juga dilakukan di seputar Alun-alun Purworejo. “Di Alun-alun sudah diberi kelonggaran berdagang sejak sore hingga dini hari. Tapi pada pagi hari semua harus bersih. Mereka yang tidak memberesi perangkat berdagang, atau tetap berdagang terpaksa kita angkut,” jelas Tri Joko Pranoto.

Sumber: Krjogja

Read More......

Rabu, 12 Januari 2011

Ribuan Rumah di Purworejo Tidak Layak Huni


Ribuan rumah di 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo masuk kategori tidak layak huni. Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Bapermades) Kabupaten Purworejo mendata, sedikitnya terdapat 33.803 unit rumah tidak layak huni di wilayahnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo melakukan pendataan pada pertengahan tahun 2010. Meski terdata mencapai 33 ribu, kemungkinan jumlah tersebut masih bisa bertambah. "Jumlahnya bisa bertambah, sebab, semua terkait dengan kondisi ekonomi masyarakat," tutur Sutrisno, Kepala Bapermades Purworejo, kepada KRjogja.com, Rabu (12/1).

Untuk mengurangi jumlah tersebut, Pemkab Purworejo melakukan program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) setiap tahun. Selama tahun 2011, APBD Kabupaten Purworejo akan mengalokasikan bantuan stimulan untuk rehabilitasi 40 unit rumah. Namun, Bapermades Purworejo belum menentukan nama desa penerima bantuan, lantaran menunggu pengumuman desa berprestasi pada pertengahan tahun 2011.

Rencananya bantuan tersebut akan dialokasikan untuk empat desa. Setiap RTLH yang diusulkan desa penerima, akan mendapat bantuan senilai Rp 3 juta. Jika dana tersebut tidak cukup, masyarakat sekitar akan diminta ikut berswadaya membantu pembangunannya.

Selain mengalokasikan dana APBD, Pemkab Purworejo juga mengupayakan adanya bantuan dari pemerintah pusat. Pemerintah berencana menggelar Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perumahan dan Pemukiman. "RTLH sebanyak 33.803 unit itu merupakan data awal yang diajukan kepada pemerintah pusat dalam rangka rencana pelaksanaan PNPM tersebut," imbuhnya.

Dikatakan Sutrisno, sektor swasta juga bisa ambil bagian dalam program rehabilitasi rumah di Kabupaten Purworejo. Perusahaan memiliki program Coorporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial terhadap lingkungan lokasi menjalankan usaha. "Perusahaan bisa mengalokasikan program CSR antara lain untuk rehab rumah," ucapnya.

Sumber: KRjogja

Read More......

Kamis, 30 Desember 2010

Purworejo Hindari Penyimpangan Proyek Kegiatan Fisik

Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg meminta agar setiap kegiatan proyek fisik konstruksi harus dilakukan sesuai aturan main, sehingga tidak ada pimpinan kegiatan yang menyimpang dari aturan. Tidak ada rekanan yang nakal dan melakukan kolusi, supaya bisa mendapatkan proyek dengan mudah tanpa melalui standar atau prosedur. Mengingat kegiatan seperti ini rawan dengan penyimpangan.

”Kalau masih terjadi penyimpangan, maka sangat berdampak buruk pada kualitas proyek yang dilaksanakan. Saya tidak ingin melihat atau mendengar ada kegiatan yang dilaksanakan justru menimbulkan masalah, terlebih masalah hukum,” jelasnya Mahsun Zain pada peresmian proyek-proyek kegiatan fisik tahun anggaran 2010 di ruang Arahiwang kompleks Setda setempat, Kamis (30/12).

Presmian ini ditandai dengan penandatangan 14 prasasti hasil pembangunan fisik. Sedang kegiatan ini berdasar pengelolaan belanja modal sumber dana APBD tahun 2010 sebesar Rp 84.999.105.050.

Mahsun Zain yang didampingi Wakil Bupati Suhar akan memberikan jaminan tidak akan ada rekanan yang mengatasnamakan bupati untuk memperoleh proyek. ”Saya pastikan kalau semua harus berjalan dengan aturan main dan sesuai proesedur. Maka tidak benar jika ada seseorang mengaku suruhan bupati untuk melakukan sesuatu terkait dengan penyimpangan proyek,” tegasnya.

Terlebih anggaran untuk kegiatan proyek itu bersumber dari uang rakyat. Sehingga selain bermanfaat bagi rakyat, juga harus dapat dipertanggungjawabkan dengan benar, mulai proses pengadministrasian maupun hasilnya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Selasa, 28 Desember 2010

KONDISINYA RUSAK BERAT ; Jalan Lingkar Berubah Status

Kementerian Pekerjaan Umum pusat merubah status 23,6 kilometer ruas jalan di Kabupaten Purworejo menjadi Jalan Strategis Nasional Rencana. Sebelumnya, sejumlah ruas jalan tersebut merupakan jalan kabupaten dan berada di bawah kewenangan Kabupaten Purworejo. Pemerintah pusat mengalihkan status ruas jalan di Kabupaten Purworejo sesuai dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 567/KPTS/M/2010, tanggal 10 November 2010. Ruas yang berubah status antara lain Jalan Lingkar Selatan, Jalan Lingkar Barat, Jalan Lingkar Utara, Jalan Kyai Brengkel, Jalan Veteran, dan Jalan Urip Sumoharjo. "Beberapa hari lalu, kami mendapat salinan keputusan dari Menteri PU tetang perubahan ruas. Termasuk perubahan untuk jalan lingkar," ujar Ir Fatori, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Purworejo kepada KR, Senin (27/12). Enam ruas jalur tersebut menjadi Jalan Strategis Nasional Rencana karena mendukung berfungsinya jalan nasional. Jalan tersebut menghubungkan jalur selatan Jawa dengan wilayah di utara pulau itu. Selain itu, ruas jalan lingkar menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dengan Yogyakarta. Menurutnya, perubahan status tersebut merupakan usulan Pemerintah Kabupaten Purworejo. "Kami sudah usulkan perubahan status tersebut pada Januari 2010. Sebab, jalan itu memang perlu perubahan status, mengingat perannya yang besar dalam menghubungkan dua provinsi," ujarnya. Setelah berubah status, peningkatan dan pemeliharaan jalan tersebut menjadi kewenangan pemerintah pusat. Meski demikian, DPU Kabupaten Purworejo tetap akan melakukan pemeliharaan jalan. "Kami akan tetap memelihara jalan, khususnya jika kondisi darurat. Namun, tetap disesuaikan dengan anggaran yang ada," ujarnya. Meski demikian, Ir Fatori mengaku belum mengetahui rencana peningkatan jalan lingkar tersebut. Menurutnya, pemerintah pusat baru berencana melakukan studi kelayakan jalur lingkar Purworejo pada tahun 2011. Hasil studi kelayakan tersebut yang akan menentukan perlu tidaknya peningkatan jalan dan merumuskan jumlah anggarannya. Selain jalan nasional, sekitar 46,59 persen dari 742 kilometer jalan kabupaten mengalami kerusakan. Kerusakan pada jalan kabupaten sepanjang 345,6 kilometer tersebut meliputi 28,74 rusak ringan dan 17,85 rusak berat.

Sumber:KR

Read More......

Penduduk Bertambah, Sampah di Purworejo Mencapai 237 Ton


Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, produksi sampah rumah tangga di Kabupaten Purworejo juga mengalami peningktan. Saat ini produksi sampah mencapai 237 ton per hari. Dari jumlah tersebut baru sekitar 196,09 ton sampah terangkut per hari.

“Produksi sampah ini diprediksikan akan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bisa saja pada tahun depan mencapai 243 ton per hari,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Purworejo melalui Kabid Kebersihan dan Pertamanan (KP) Mulyono, Selasa (28/12).

Dikatakan, volume sampah di Purworejo semakin meningkat. Namun selama ini, pengelolaan sampah masih dilakukan secara tradisional, yakni dengan penumpukan atau penimbunan dan pembakaran sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Pengelolaan sampah secara tradisional ini masih bisa dilakukan di daerah berpenduduk dengan kategori rendah. Namun di Purworejo dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka perlu ansisipasi sehingga sampah yang ada dapat dikelola dengan baik dan tidak mencemari lingkungan,” paparnya.

Diakui, meskipun saat ini warga masyarakat mulai sadar akan kebersihan lingkungan dengan mengolah sampah menjadi pupuk organik, namun baru sebatas dilakukan masyarakat di lingkungan pedesaan.

“Sedang di perkotaan yang justru penghasil sampah terbanyak, belum diberdayakan. Terlebih sampah ini mayoritas dari plastik,” jelas Mulyono.

Sumber:KRjogja

Read More......

Selasa, 14 Desember 2010

Groundsill Sungai Bogowonto Jebol Lagi


Purworejo, CyberNews. Bangunan groundsill atau penahan arus sungai Bogowonto di Kelurahan Tambakrejo atau yang lebih populer dengan sebutan Buh Liwung kembali jebol setelah diterjang banjir besar. Kerusakan yang terjadi kali ini bahkan lebih parah dibandingkan kerusakan sebelumnya.

Dari pantauan, kerusakan kali ini terjadi di tiga titik sekaligus. Yakni di bekas kerusakan lama di bagian timur, bagian barat, dan di bagian sayap groundsill bagian timur yang berada tepat di bawah tiang penyangga jembatan Liwung.

Kerusakan di bangunan groundsill sebelah timur dan barat panjangnya sekitar 8 meter dengan ketinggian sekitar 2,5 meter. Kawat bronjongnya jebol sehingga material batu sungai hilang terbawa arus. Bangunan groundsill sepanjang 66,5 meter juga terdapat banyak sampah yang tersangkut. Sampah tersebut dibawa arus sungai pada saat banjir besar yang terjadi Rabu (8/12) malam.

Hasan (63), warga setempat menyebutkan, banjir yang merusak bangunan groundsill itu memang sangat besar dan meluber hingga ke atas bangunan sayap dan menerjang sejumlah pepohonan yang ada di sepanjang bantaran sungai. "Pohon yang tidak tumbang akarnya jadi kelihatan seperti itu karena tanahnya tergerus air. Sawah di bagian bawah juga terkena banjir dan rusak," katanya.

Menurut Hasan, kerusakan itu groundsill itu merupakan yang ketiga kalinya sejak dibangun tahun 2009. Kerusakan pertama terjadi di bagian timur beserta sayapnya hingga menghanyutkan sejumlah pohon kelapa. Setelah diperbaiki, tak berlangsung lama kembali terjadi kerusakan akibat banjir pada titik yang sama.

Warga khawatir, kerusakan bangunan groundsill itu bisa merembet dan mengancam tiang jembatan liwung. Jika sampai tiang jembatan tergerus, maka ancamannya jembatan bisa terputus. Padahal, jembatan itu merupakan satu-satunya akses jalan yang menghubungan wilayah Purworejo bagian timur dengan ibukota kabupaten.

Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Purworejo Ir Susanto Sp I melalui Kasi Sungai Drainase dan Sistem Informasi Slamet Supriyanto ST, menjelaskan, groundsill itu memang sangat vital, karena tanpa bangunan tersebut, arus air Sungai Bogowonto menjadi deras dan susah dikendalikan.

"Secara teknis, bangunan itu kuat. Namun, karena banyaknya sampah yang menyangkut disela-sela kawat, makin membebani groundsill, sehingga ketika ada banjir besar, bangunan jebol," ujarnya.

Dinas Pengairan sudah melakukan pengecekan ke lokasi dan segera melaporkannya ke Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO). Perbaikan kerusakan itu menjadi kewenangan BBWSO.

Sumber:Suaramerdeka

Read More......

About This Blog

Blog ini berisi kumpulan berita dari berbagai sumber.

Terutama yang berhubungan dengan Purworejo.

Semoga bisa membantu anda mengenal kota ini lebih dalam.

Terimakasih.

Berita Purworejo 2010 Presented By d-_-b

Back to TOP