Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Januari 2011

Berobat Cukup Isi Kotak Infaq

PURWOREJO – Berobat murah bagi orang miskin bukan sebuah impian. Di Purworejo telah berdiri sebuah rumah sakit bersalin yang difokuskan untuk membantu para kaum duafa. Rumah Bersalin Islam (RBI) Umiyah di Jalan Raya Berjan No 287, Lugosobo, Kecamatan Gebang (jalan Lingkar Utara,red) ini bahkan tidak menentukan tarif bagi pasiennya. Warga yang berobat cukup mengisi kotak infaq seikhlasnya.
Kendati pasien hanya membayar seikhlasnya, pihak rumah sakit juga tetap memberikan pelayanan prima. Melibatkan tenaga-tenaga yang profesional, pasien dengan berbagai kelas sosial akan ditangani sama dan tidak dibeda-bedakan. Obat yang diberikan dari pihak rumah sakit juga tidak asal-asalan. Bukan sekadar obat generic, obat-obat yang berharga menakutkan bagi warga miskin-pun diberikan oleh RB Umiyah ketika pasien memang membutuhkan.
RB Umiyah berdiri di atas tanah wakaf seluas 1.000 meter persegi, dan terus berkembang. Kini juga sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas pendukung seperti ruang bersalin, ruang pemulihan, ruang tindakan atau pemeriksaan dan juga kamar rawat inap.
Memliki dua dokter, empat bidan, empat perawat dan beberapa dokter spesialis kandungan serta ahli jantung, RS ini sanggup untuk melakukan pelayanan amal. Rumah bersalin ini digadang menjadi alternatif rujukan para kaum duafa atau orang kaya yang membutuhkan pelayanan prima.
Pembangunan beberapa unit kamar inap, Unit Gawat Darurat (UGD) sebagai penanganan cepat tahun 2011 akan segera dibangun. Beberapa dokter spesialis kandungan dan konsulen obsgin juga sudah sanggup dan senang hati untuk bergabung dan beramal.
"Jadi dokter yang bersangkutan tetap bertugas di rumah sakit tempat tugasnya. Sedangkan jika ke sini mereka datang ke sebuah ladang untuk beramal," kata Pengelola RB Umiyah Drajad Setiono M Kes, yang juga ketua Yayasan Islam UMMY itu, Rabu (29/12) kemarin.
Dijelaskan Drajad, ide dan gagasan pertama didirikannya rumah bersalin Islam terinsiprasi dari sebuah rumah sakit yang ada di Nepal. Pencetus gagasan awal yakni dr Gunawan Setiadi MpH dan Heru Elok Wibowo SE.
Pelayanan di RB Umiyah memang difokuskan untuk membantu kaum duafa. Sistemnya dengan subsidi silang. Pasien yang memiliki strata sosial-ekonomi tinggi dan sanggup membayar dengan standar pengobatan pada umumnya juga dilayani. "Sedangkan pasien yang kurang atau tidak mampu dibebaskan dari biaya. Cukup mengisi infaq seikhlasnya. Secara sistematis kami tumbuh bersama mereka, antar pasien yang kaya dan miskin saling membantu, kami membantunya dengan sarana dan prasarana dan dokternya," jelas Drajad.

Sumber: Radarjogja

Read More......

Wah, Kuota Jamkesmas Kelebihan 23.338 Jiwa

Purworejo, CyberNews. Kuota Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk Kabupaten Purworejo tahun 2011 mengalami kelebihan cukup banyak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purworejo menghitung kelebihan kuotanya mencapai 23.338 jiwa.

Kepala Dinkes Kuswantoro yang dimintai konfirmasi melalui Kabid Promosi dan Pembiayaan Kesehatan Nancy Megawati membenarkan hal itu. "Sesuai dengan petunjuk dari Kemenkes, kelebihan itu akan segera kita update untuk disesuaikan," ujar Nancy, Kamis (13/1).

Dijelaskan Nancy, pendataan peserta Jamkesmas didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008 di mana jumlah masyarakat miskin (Maskin) sebanyak 215.265.

Saat penentuan kuota, ternyata Kabupaten Purworejo mendapatkan alokasi sebanyak 238.265, sehingga ada kelebihan 23.338 jiwa. "Nah sisa kuota ini yang akan kita sesuaikan melalui proses update," katanya.

Hal itu, sambung Nancy, sesuai dengan petunjuk dari Kemenkes yang dituangkan melalui surat nomor: JP.01.01/X/1338/2010 tertanggal 11 Oktober 2010 Perihal Kepesertaan Jamkesmas.

Dalam surat tersebut dijelaskan, proses update data diminta memprioritaskan kepesertaan lama namun sekarang tidak masuk dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit karena penyakit kronis.

Selain itu, juga warga yang belum masuk kuota dan tidak masuk dalam kepesertaan jaminan kesehatan, termasuk jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) berdasarkan verifikasi.

Dijelaskan Nancy, proses update itu akan melibatkan puskesmas yang dibantu kepala desa di wilayah masing-masing. "Desa kan yang paling tahu kondisi masyarakatnya," katanya.

Sumber: Suaramerdeka

Read More......

Satu Warga Purworejo Meninggal Akibat Malaria

Satu orang meninggal dunia dan puluhan lainnya membutuhkan perawatan medis akibat serangan malaria di Purworejo, Jawa Tengah. Trimah, misalnya. Warga Semono, Kecamatan Bagelen, Purworejo, itu masih tergeletak di tempat tidur dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa.

Sudah dua hari, Trimah terserang malaria. Sehari sebelumnya, Egy telah meninggal dunia akibat malaria. Ia sempat diperiksa ke Puskesmas terdekat.

Demi mengantisipasi meluasnya wabah itu, warga dan petugas Dinas Kesehatan Purworejo bergotong royong membersihkan tempat-tempat yang mudah dihinggapi nyamuk . Mereka juga diberi penyuluhan, seperti menjemur kasur di halaman rumah. Masyarakat diimbau agar melakukan hidup sehat, dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan.

Sumber: Liputan6

Read More......

Kamis, 30 Desember 2010

Mengapa RSB bukan RSU?

Ditanya kenapa memilih mendirikan rumah sakit bersalin (RSB) bukan rumah sakit umum (RSU), Drajad menjelaskan dasar pendirian rumah bersalin berawal dari sebuah keprihatinan akan risiko kematian ibu dan anak ketika persalinan, khususnya di Purworejo. "Di Nepal, angka kematian ibu dan anak bisa ditekan karena masyarakat sudah tidak takut lagi untuk periksa dan melahirkan di rumah sakit. Mereka tidak takut dengan momok biaya tinggi. Kalau di Indonesia umumnya warga miskin yang ingin periksa, takut tidak kuat bayar, padahal kelahiran kan bisa direncanakan dan bisa diupayakan untuk keselamatan ibu dan anak," ujar Drajad.
RB Umiyah sudah mulai beroperasi sejak Mei 2010. Setiap ibu yang memeriksakan kandungan atau berniat melakukan persalinan di RB Umiyah tidak perlu takut biaya. "Iya pasien duafa hanya cukup mengisi kotak infak seikhlasnya setelah periksa atau melahirkan," jelasnya.
Salah satu dokter RB Umiyah, Yohana Sunarsih, saat dikonfirmasi Radar Joga menambahkan, di tengah tingginya angka kematian ibu dan anak saat melahirkan, serta mahalnya berobat di rumah sakit, nasib ibu yang hidup di bawah standar ekonomi sangat perlu diperhatikan. "Pertimbangan utama seorang ibu yang terbatas ekonominya ketika ingin memeriksakan kandungan atau melahirkan tentu saja terbayang biaya tinggi. Padahal mereka sudah harus fokus berjuang melahirkan. Kami kasihan,” ujarnya.
Maka, kerja di sini sifatnya beramal membantu perjuangan seorang ibu. “Gaji ada namun itu dari donatur dan hasil infaq itu, manajemen RB Umiyah juga berani membayar dengan biaya tinggi kepada karyawannya untuk menjaga kualitas kerja," ucapnya.
Warga yang sulit ekonomi di Purworejo kini tidak perlu risau jika ingin periksa kandungan atau bersalin, tegas Yohana, "Saya asli orang Purworejo, jadi saya tahu banyak warga Purworejo masih banyak yang hidup dibawah standar ekonomi layak. Kami ingin membuktikan mereka, bahwa berobat itu tidak perlu takut membayar mahal," imbuhnya.
Salah satu pasien, Maryuni, 44, mengatakan, pelayaan di RB Umiyah cukup bagus. Selain itu biayanya juga sangat terjangkau. "Jika sebelumnya saya periksa atau berobat di Puskesmas sekali datang harus bayar Rp 12.500 kalau di sini cukup seikhlasnya mengisi kotak infaq. Seperti mau KB di sini juga bisa. Yang jelas rumah bersalin ini sangat membantu warga miskin seperti saya," sergahnya.

Sumber:RadarJogja

Read More......

Minggu, 12 Desember 2010

238.603 Jiwa Miskin Dapat Perlindungan Jamkesmas

Sebanyak 238.603 jiwa miskin warga Kabupaten Purworejo mendapat perlindungan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Jumlah itu belum terhitung masyarakat miskin penghuni panti sosial termasuk gelandangan, pengemis, anak terlantar dan lainnya yang ditetapkan Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertranssos).

“Ada empat rumah sakit yang ditunjuk untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat miskin pengguna Jamkesmas,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Purworejo dr Kuswantoro MKes, Sabtu (11/12).

Menurutnya, keempat rumah sakit yang ditunjuk itu masing-masing Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saras Husada Purworejo, PKU Muhamadiyah Purworejo, RS Palang Biru Kutoarjo, dan RS Panti Waluyo Purworejo.

“Bila selama ini peserta Jamkesmas masih dibebani biaya pembelian obat, karena pada rumah sakit yang bersangkutan tidak ada obat yang dimaksud, maka mulai tahun 2011 nanti sudah tidak lagi,” kata Kuswantoro seraya menambahkan, pelayanan Jamkesmas sudah berbentuk paket termasuk obat-obatan hingga operasi.

Dikatakan pula, pelayanan kesehatan masyarakat miskin ini bersumber dari program bantuan sosial. “Progran ini diselenggarakan secara nasional, dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyatakat miskin,” jelasnya.

Peserta Jamkesmas juga dapat memperoleh pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia. Rumah sakit yang ditunjuk juga tidak boleh menolak terhadap permintanaan pelayanan kesehatan peserta Jamkesmas,” tegas Kuswantoro.

Sumber:KRjogja

Read More......

About This Blog

Blog ini berisi kumpulan berita dari berbagai sumber.

Terutama yang berhubungan dengan Purworejo.

Semoga bisa membantu anda mengenal kota ini lebih dalam.

Terimakasih.

Berita Purworejo 2010 Presented By d-_-b

Back to TOP