Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2011

Petani Cabai Tiap Malam "Ronda" di Sawah

Sungguh ironis, harga cabai saat ini nyaris serupa harga emas, setelah melonjak drastis dan cenderung tidak wajar. Karuan saja komoditas pertanian ini sekarang menjadi incaran aksi pencurian. Termasuk yang terjadi di lahan penanaman cabai di Kabupaten Purworejo.

Sejumlah petani mengaku cabainya yang belum dipanen menjadi sasaran pencurian. Untuk menjaga tanaman cabainya, para petani di wilayah Kecamatan Pituruh dan Kecamatan Kemiri, Purworejo rela siang dan malam di lahan persawahan untuk menjaga keamanan.

"Kami harus ronda setiap malam supaya cabainya tidak dicuri maling," ujar Suhadi (29), salah satu petani di Desa Megulung Lor, Pituruh, Rabu (12/1).

Dia menyebutkan, di wilayahnya sempat terjadi pencurian cabai beberapa kali. Pemiliknya belum merasa memanen tapi saat hendak dipanen sudah hilang. "Mungkin diambil maling karena tahu harga cabai sekarang seperti inten (permata, red)," katanya.

Penjagaan tanaman cabai itu, sambungnya, dilakukan selama 24 jam nonstop. Suhadi mengatakan, kegiatan ronda itu akan terus dilakukan sampai kondisi aman dan panen cabai sudah selesai. "Kalau masih rawan akan kita jaga terus," katanya.

Sementara itu, harga jual cabai di tingkat petani sebenarnya tidak semahal di pasaran tradisional. Meroketnya harga saat ini sebenarnya lebih banyak menguntungkan para tengkulak yang sudah berhasil memainkan harga.

Dicontohkan harga cabai hijau besar yang semulai mencapai Rp 20.500 per kilogram sekarang sudah turun menjadi Rp 12.000 per kilogram. Sedangkan harga cabai rawit dalam kisaran Rp 30.000 per kilogram di tingkat petani. Harga itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga di pasaran yang menembus kisaran Rp 77.000 per kilogram.

Hal senada diungkapkan petani lainnya, Maryoto (38). Dia memperkirakan, turunnya harga cabai lantaran mulai ada lonjakan pasokan barang yang datang dari daerah lain. "Juragan cabai yang membeli produk kami mengatakan adanya pasokan yang datang dari daerah lain, sehingga mempengaruhi harga di Purworejo. Meski masih ada keuntungan, namun kami menyayangkan, sebab tidak bisa jual cabai dengan harga tinggi," imbuh Mujito (43), petani lainnya.

Sumber: Suaramerdeka

Read More......

Senin, 10 Januari 2011

Wereng Serang Pituruh, Kutoarjo dan Loano

PURWOREJO - Selain intensitas hujan tinggi yang menyebabkan meluapnya beberapa sungai di Kabupaten Purworejo dan mengakibatkan gangguan musim tanam, gangguan hama juga memiliki andil besar dalam mengganggu petani dalam merawat tanaman padi. Memasuki musim tanam bulan Oktober 2010- Maret 2011 beberapa hektare tanaman padi sempat terserang hama. Selain wereng, walang sangit, tikus dan ulat pengerek daun juga menjadi musuh nyata petani.
Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purworejo Eko Anang SW mengatakan sedikitnya 155 hektare padi jenis ketan terancam wereng di Kecamatan Pituruh dan Kutoarjo. Sementara 1.5 hektare ketan juga terintai hama wereng di Kecamatan Loano.
"Kekuatan serangan wereng memang belum termasuk parah dan mengakibatkan ancaman gagal panen (puso,red). Seperti di Loano serangan hama wereng masih masuk kategori sedang menuju berat," katanya, Sabtu (8/1) kemarin.
Dijelaskan Eko, satu rumpun tanaman padi biasanya terdiri dari 20 batang, keberadaan hewan yang berwarna coklat itu hanya ditemukan lima ekor dalam satu rumpun, dan lokasinya tidak merata, menempati spot-spot tertentu.
"Jenis padi yang rentan terhadap serangan wereng yakni jenis padi ketan. Rata-rata padi ketan yang terserang wereng sudah berumur 70 hari (menguning,red). Di Loano total luasnya hanya 1.5 hektare namun itu cukup berbahaya jika tidak segera ditanggulangi," imbuhnya.
Dinas sebetulnya sudah mengimbau dan menyarankan petani untuk tidak menanam padi jenis ketan bersamaan dengan padi jenis lainnya. Hal itu dimaksudkan untuk menimimalisir meluasnya serangan wereng. Pasalnya selain padi jenis ketan, wereng juga rentan untuk padi jenis Mentik Wangi dan Ciherang pada usia 20 - 30 hari.
"Wereng yang menyerang padi diusai kurang dari 40 hari harus cepat dikendalikan, caranya hanya dengan obat kimia (insektisida,red). Wereng biasanya muncul pada musim penghujan dengan kelembaban tinggi yakni sekitar bulan Desember - Maret," ujarnya.
Intensitas dan luas serangan hama di tahun 2010 juga lebih tinggi dibanding tahun 2009, sambung Eko, sementara melihat intensitas di awal tahun 2011 diperkirakan serangan hama (tidak hanya wereng,red) lebih meningkat. "Seperti hama tikus biasanya menyerang tanaman padi pada usia 40 - 60 hari. Selain itu juga ada walang sangit dan ulat pengerek daun," jelasnya.
Salah satu petani, Suparman, 48, warga Pacekelan, Kecamatan Bagelen menambahkan, padi yang ditanam di areal sawah seluas satu iring miliknya kini diserang ulat pengerek daun dan gulma (rumput,red).
"Upaya membasminya dengan cara disemprot, ulat menyerang daun sementara gulma membuat tanaman padi menjadi kerdil kalah dalam menyerap pupuk. Jadi rumput lebih tinggi dari padinya. Untuk menghilangkannya juga disemprot dan disiangi secara manual. Jika tidak ada gangguan hama sawah bisa menghasilkan 9 kuintal gabah sekali panen semusim," tandasnya.

Sumber: Radarjogja

Read More......

Minggu, 09 Januari 2011

Harga Cabai Meroket, Permintaan Bibit Melonjak

Purworejo, CyberNews. Meroketnya harga komoditas cabai di pasaran membuat masyarakat mulai menyadari untuk menanam cabai di lingkungan rumah tempat tinggal. Harapannya dari tanaman itu bisa dipenuhi kebutuhan cabainya sendiri saat harga di pasaran sangat tinggi.

Dari pantauan, permintaan bibit cabai mengalami lonjakan drastis jika bandingkan sebelumnya. Para petani meyakini peningkatan permintaan itu sebagai dampak dari meroketnya harga cabai yang harganya tembus hingga Rp 100 ribu per kg untuk kualitas terbaik. "Harga cabai sekarang sangat mahal. Para petani banyak yang ingin membudidayakan supaya bisa ikut mendapatkan untung," ujar Karsidi (39), salah satu pedagang bibit cabai di Pasar Baledono, Minggu (9/1).

Lebih lanjut disebutkan, peningkatan permintaan bibit itu melonjak sekitar 200%. Jika hari-hari biasa dia hanya mampu menjual 100 bibit, dalam dua pekan terakhir melonjak menjadi 300 bibit per hari. "Alhamdulillah bisa ikut menikmati keuntungan saat harga cabai mahal," katanya.

Meningkatnya permintaan bibit cabai juga diungkapkan petani penyemai bibit cabai. Seperti diungkapkan Kasno (31), petani di Desa Kesidan, Kecamatan Ngombol. "Sekarang saja pesanan sudah mencapai 100 ribu bibit. Padahal biasanya 50 ribu bibit sudah banyak sekali," katanya.

Menurutnya, selain banyak masyarakat yang ingin menanam cabai di lingkungan masing-masing, para petani saat ini juga sudah mulai memasuki masa tanam yang biasanya dimulai sejak Februari hingga Agustus setiap tahunnya.

Sumber: Suaramerdeka

Read More......

Kamis, 30 Desember 2010

Pemprov Jateng Akan Bangun STA di Purworejo


Harapan petani Kabupaten Purworejo untuk mendapatkan kemudahan akses terhadap pasar akan segera terpenuhi. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah berencana membangun Sub Terminal Agribisnis (STA) di Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen, pada tahun 2011 mendatang.

Pembangunan tersebut merupakan tindak lanjut pengembangan kawasan agropolitan Bagelen di Kabupaten Purworejo. STA di Krendetan tersebut akan menjadi pusat informasi, transaksi, dan pelatihan.

Pemerintah provinsi kini tengah menggelar lelang untuk pekerjaan tersebut. "Informasi yang kami dengar, lelang sedang dilaksanakan. Hampir dipastikan, pengerjaannya dilakukan tahun depan," ujar Bambang Jati, Kasubid Produksi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Purworejo, Kamis (30/12).

Setelah STA tersebut dioperasikan, pelaku usaha tani di Kabupaten Purworejo bisa menginformasikan spesifikasi komoditas dan kapasitas produksi yang dimiliki. "Ada semacam lokasi display, nantinya akan menjadi semacam etalase produk pertanian, peternakan, dan perikanan yang dihasilkan masyarakat Purworejo," tuturnya.

Dikatakan, persoalan yang kerap dihadapi petani saat ini adalah kurangnya akses terhadap pasar. Petani bisa meningkatkan kapasitas produksi pertanian, namun kerap mengalami kesulitan saat hendak menjual hasil panen. Akibatnya, komoditas petani kerap terbeli tengkulak dengan harga yang tidak menguntungkan.

"Siapa yang menguasai informasi, akan mendominasi pasar. STA akan memudahkan petani menguasai informasi," terangnya.

Pengelolaan STA tersebut juga akan melibatkan petani. Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo telah membentuk kelompok kerja (pokja) di sejumlah kecamatan, dengan anggota antara lain petani.

Untuk pengembangan kawasan itu, kini Purworejo telah memiliki sejumlah cluster atau wilayah pengembangan, sesuai dengan produk unggulan bidang pertanian yang dimiliki. Kini, Kabupaten Purworejo memiliki wilayah pengembangan kambing peranakan etawa (PE), durian, dan manggis (di Kecamatan Kaligesing), gula kelapa, dan durian (Bagelen), hortikultura dan perikanan (Purwodadi), serta padi organik (Ngombol).

Petani jagung di Desa Nampurejo, Purwodadi, Untoyo, menyambut positif rencana pemerintah membangun STA di Desa Krendetan Bagelen. Menurutnya, selama ini petani hanya bisa menjual tanaman hortikultura itu kepada pengepul yang datang langsung ke ladang saat panen. "Jika bisa dikoordinasikan, dan hasilnya disalurkan melalui STA, tentunya, akan lebih menguntungkan kami. Sebab, kami mengetahui kemampuan pasar serta bisa negosisasi harga," imbuhnya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Minggu, 26 Desember 2010

Penjual Bibit Padi Lesu

Penjualan bibit padi lesu dan pedagang mengalami kerugian karena rusaknya bibit akibat banjir yang melanda Kecamatan Butuh dan Grabag, Kabupaten Purworejo.

“Kalau sudah terlalu tua tidak juga laku, bibit akan rusak karena sudah dicabut dari tempat persemaian,” ujar Padmopawiro (70) salah seorang pedagang bibit tanaman padi di Pasar Butuh, Purworejo, Minggu (26/12).

Menurutnya, bibit tanaman padi yang siap dipasarkan ini rata-rata hanya bertahan hingga beberapa hari. Maksimal satu minggu. “Jika tidak laku, sudah tidak bisa dimanfaatkan karena semakin lama tidak ditanam akan bertambah rusak,” jelas Padmopawiro.

Kondisi serupa dialami Tumijan (58), pedagang bibit tanaman padi di Pasar Kutoarjo, Purworejo. Kelesuan perdagangan bibit ini juga karena banjir yang berkepanjangan.

“Biasanya setelah banjir, petani banyak yang mencari bibit tanaman padi karena benih yang disemai atau bibit yang sudah siap ditanam rusak. Atau untuk tanaman susulan karena bibit yang sudah ditanam rusak, tapi ini banjir masih berkepanjangan sehingga petani belum membutuhkan bibit,” jelas Tumijan.

Diakui, untuk musim kali ini dirinya sudah menderita kerugian akibat bibit dagangannya rusak. “Semua benih sudah saya cabut dan dipasarkan, tapi baru laku sekitar 40 persen,” katanya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Rabu, 15 Desember 2010

Purworejo Kembangkan SRI Organik 200 Hektar


Selama tahun 2010, petani di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo mengembangkan padi dengan System of Rice Intensification (SRI) organik pada lahan seluas 200 hektare. Untuk melancarkan program tersebut, pemerintah pusat memberikan bantuan Rp 3,09 miliar untuk kelompok tani (kelomtan).

Setiap kelompok tani mendapat bantuan Rp 309 juta dan diwajibkan mengembangkan padi SRI pada lahan seluas 20 hektare. Bantuan tersebut dialokasikan untuk pembangunan rumah kompos , pembelian 30 ekor sapi, kendaraan roda tiga, alat pembuat pupuk organik (APPO), serta sekolah lapang.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo juga memberikan bantuan stimulan berupa peralatan pendukung pembuatan pupuk organik dan pembangunan kandang sapi berkapasitas delapan ekor. Selain itu, kelomtan juga mendapat bantuan pompa air dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

Selain bantuan dari pemerintah, masyarakat juga melakukan swadaya dalam memenuhi kekurangan kapasitas kandang sapi. "Kandang sapi yang dibuat pemerintah hanya untuk delapan ekor, kekurangannya dibangun oleh petani secara swadaya," ungkapnya.

Bantuan tersebut diberikan kepada sepuluh kelompok tani (kelomtan) yang menjalankan program SRI. Kelompok tersebut terdapat di Desa Ringgit (2 kelomtan), Wasiat (2), Kaliwungu (2), Ngombol (1), Tunjungan (1), Rasukan (1), dan Candi (1). "Kami sudah buat komitmen dengan petani di sepuluh kelompok tersebut. Mulai 2010, petani menyatakan sanggup melaksanakan pertanian organik dengan metode SRI," ungkap Abdul Malik, Kasi Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Purworejo, kepada KRjogja.com, Rabu (15/12).

Pertanian dengan SRI memanfaatkan potensi organik yang terdapat di lingkungan kelompok tani. Petani membuat pupuk organik, pupuk cair, serta pestisida secara mandiri. Petani menggunakan material organik sejak pengolahan tanah hingga panen padi. Selain kotoran sapi, petani juga bisa menggunakan potensi lain seperti dedaunan, jerami, atau sampah rumah tangga untuk membuat pupuk organik.

Menurutnya, sulitnya mengubah budaya petani untuk beralih menggunakan pupuk organik, menjadi kendala penerapan SRI. Petani beranggapan, hasil panen padi organik lebih rendah daripada tanaman yang menggunakan pupuk kimia. Padahal, pertanian dengan SRI bisa meningkatkan produksi padi, hingga delapan hingga sembilan ton gabah setiap hektare. "Selama menerapkan standar operasional SRI, yakni tujuh ton pupuk organik setiap hektare sawah, maka hasilnya akan maksimal," terangnya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Senin, 13 Desember 2010

Larang Angkut Pupuk Sore Hari di Purworejo


Distribusi atau pengangkutan pupuk di wilayah Kabupaten Purworejo dilarang dilakukan pada sore maupun malam hari. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, sehingga tidak disalahgunakan.

“Mengangkut pupuk harus dilakukan pada jam kerja, sampai pukul 16.00 WIB,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Purworejo Drs Said Ramadan, Selasa (14/12).

Dijelaskan, distribusi pupuk di Purworejo selalu dalam pengawasan, distributor maupun pengecer harus mematuhi aturan ini, terutama untuk pupuk bersubsidi. “Jika aturan ini dilanggar, maka yang bersangkutan akan dikenakan sanksi karena pupuk merupakan barang dalam pengawasan,”jelasnya.

Menurut Said Ramadan, kebutuhan pupuk untuk wilayah Purworejo semestinya tidak mengalami kekurangan, apalagi kelangkaan. Sebab kebutuhan pupuk untuk petani dan masyarakat sudah diperhitungkan sebelum pengajuan.

Saat ini distribusi pupuk ditangani oleh delapan distributor Pupuk Pusri dan tiga distributor untuk Petro Kimia. “Jumlah pengecer sekitar 188 yang tersebar di berbagai tempat,” katanya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Tanggul Jebol Rendam puluhan Hektare Sawah

Purworejo: Puluhan hektare areal persawahan di Desa Wironoto, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, terendam banjir, Senin (13/12). Banjir disebabkan jebolnya Sungai Lesung yang tidak kuat menahan tingginya debit air hujan. Tanggul sepanjang lima meter itu pun merendam sedikitnya 40 hektare areal persawahan yang ada di sekitar sungai hingga kedalaman setengah meter.

Alhasil, petani terancam gagal panen pada musim tanam kali ini karena padi yang rata-rata baru berumur tiga minggu rusak tergenang air. Luapan Sungai Lesung jugamerendam pemukiman penduduk.

Warga kini menutup tanggul yang jebol dengan tumpukan karung berisi tanah, untuk menghindari banjir meluas. Mereka masih menunggu penanganan serius dari pemerintah dalam menangani musibah di wilayah yang merupakan salah satu sentra penghasil beras di Kabupaten Purworejo itu.
Sumber:Liputan6

Read More......

Stok Terbatas, Harga Cabai di Purworejo Meroket

Purworejo, CyberNews. Harga cabai di pasaran Kabupaten Purworejo mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir. Kenaikan harga itu dipicu menipisnya stok, baik yang dimiliki pedagang di pasaran maupun pengepul.

Produksi petani mengalami penurunan drastis lantaran terkena dampak hujan abu dari erupsi Gunung Merapi beberapa waktu lalu. Pantauan di sejumlah pasar tradisional Minggu, (12/12) kenaikan harganya dalam kisaran 50 %.

Salah-satu pedagang Pasar Baladeno, Abdul Madjid (50) menyebutkan, kenaikan harga cabai mulai terasa sejak sepekan terakhir. Para pedagang, bahkan menyebutnya bukan lagi kenaikan harga, tetapi ganti harga.

Harga cabai jenis rawit naik dari Rp 21.000 menjadi Rp 45.000 setiap kilogramnya. Begitu pula cabai merah keriting harganya naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 35.000 per kilogram.

Sedangkan cabai jenis ijo besar juga naik dari harga Rp 7.000 menjadi Rp 13.000 per kilogram.

Pedagang lainnya, Siti Khotidjah (51) mengungkapkan, saat ini pedagang mengalami kesulitan untuk mendapatkan stok dari petani. "Jangankan untuk mendapatkan cabai kualitas bagus. Pembeli kini juga banyak yang mencari cabai BS atau afkiran," katanya.

Cabai BS biasanya sebagian sudah kering atau mulai membusuk, tapi belum busuk dan masih bisa diolah untuk bumbu masakan. Harga cabai BS kini menyentuh Rp 20.000 per kilogram naik dari harga sebelumnya yang hanya Rp 9.000 per kilogram.

"Itu pun pembeli cabai akan rebutan. Cabai BS kebanyakan cabai merah panjang dan kebanyakan untuk masakan, bukan seperti cabai rawit untuk lalap," terangnya.

Pedagang Pasar Tambakrejo, Yuni (27) juga mengeluhkan kenaikan harga cabai. Berbeda dengan pedagang lain yang mengetahui penyebabnya, Yuni mengaku tidak tahu persis penyebab kenaikan harga cabai.

"Kata pengepul harga cabai naik karena petani kini banyak yang gagal panen. Hal ini tidak terlepas dari musim penghujan, cuaca ekstrim dan dampak hujan abu Merapi," katanya.

Sumber:Suaramerdeka

Read More......

Minggu, 12 Desember 2010

Petani Purworejo Diminta Waspadai Wereng Cokelat

Petani padi di Kabupaten Purworejo diminta untuk mewaspadai serangan hama wereng cokelat. Jika tidak ditangani sedara benar, serangan hama tersebut diperkirakan bisa mengganas, lantaran musim hujan mengakibatkan sawah makin lembab.

Kabid Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Purworejo, Ir Eko Anang SW mengatakan, wereng cokelat menyukai lokasi sawah yang lembab. "Sawah akan makin lembab jika tanaman padinya rapat. Sawah yang demikian, rentan serangan wereng cokelat," ujarnya kepada KRjogja.com, Sabtu (11/12).

Selain itu, pola tanam padi terus menerus sepanjang tahun juga meningkatkan potensi serangan. Kini, sebagian petani terus menanam padi selama tiga kali musim tanam di tahun 2010.

Serangan wereng cokelat dapat diantisipasi dengan menerapkan sistem tanam jejer legowo. Menurutnya, menanam padi dengan sistem jejer legowo membuat kelembaban di sawah berkurang. Kelembaban berkurang lantaran tanaman ditanam dalam jarak tertentu. "Jika ditanam renggang, kelembaban berkurang, dan menekan potensi serangan wereng. Petani, khususnya di Kecamatan Butuh, Grabag, Bayan, dan Pituruh, diharap bisa menerapkannya, sebab kawasan itu merupakan endemis wereng cokelat," tegasnya.

Distanhut Purworejo menyebutkan, sawah seluas 7,4 hektare di Kecamatan bayan, Banyuurip, dan Purworejo, juga diserang wereng cokelat. Menurutnya, intensitas serangan wereng cokelat di Purworejo masih ringan. Setiap rumpun padi yang diserang, hanya terdapat sekitar sepuluh ekor wereng cokelat. "Serangan berat jika dalam setiap rumpun, ada lebih dari 40 ekor wereng cokelat. Jika serangan ringan, petani bisa menggunakan pestisida jenis Applaud," terangnya.

Selain itu, berdasar laporan petugas pengamat hama tanaman, serangan didominasi oleh tikus. Tikus menyerang tanaman padi seluas 33,5 hektare di Kecamatan Bener, Bayan, Loano, Banyuurip, dan Purworejo. Penggerek batang atau Sundep juga menyerang padi pada sawah seluas enam hektare di Kecamatan Loano, Butuh, Banyuurip, dan Pituruh. Hama Putih Palsu menyerang sawah seluas lima hektare di Banyuurip dan Purworejo. (R-1)

Sumber:KRjogja

Read More......

Kamis, 09 Desember 2010

Ketika Harga Jagung Stabil, Petani Masih Tetap Merugi Terpukul Kenaikan Harga Pupuk

Harga jual jagung pipil kering di Kabupaten Purworejo stabil, namun kondisi itu tidak membuat petani merasa nyaman. Pasalnya, petani jagung di Kabupaten Purworejo tidak mendapatkan hasil panen yang maksimal untuk musim kali ini.

HENDRI UTOMO, Purworejo PETANI Jagung, Kirmanto, 42, warga Bagelen, Kecamatan Purworejo mengatakan, harga jagung pipil kering di tingkat petani kini Rp 2.400 per kilogram. Harga itu bahkan sudah bertahan selama dua tahun terakhir.
"Ya harga jagung stabil namun biaya produksinya yang naik, harga pupuk urea misalnya kini sudah naik meski barang tersedia banyak," ungkap Kirmanto, Kamis (2/12) kemarin.
Petani lain, Karsomiharjo, 35, warga Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, menimpali, dirinya telah membudidayakan tanaman jagung pada lahan seluas seperempat hektare tepat di pinggir Jalan Daendels yang masih masuk wilayah desanya.
"Sekali musim tanam jagung saya membutuhkan sekitar 60 kilogram (1 zak) pupuk urea. Setiap zak pupuk urea kini harganya Rp 80 ribu," katanya.
Dikatakan Karsomiharjo, sejak bulan April 2010, pemerintah telah menaikkan harga pupuk urea bersubsidi dari Rp 65 ribu menjadi Rp 80 ribu setiap zak-nya. "Selain pupuk, harga benih jagung juga naik. Menamam jagung di lahan seluas seperempat hektare ini saja saya harus menyediakan lima kilogram benih jagung. Harganya Rp 60 ribu setiap kilogram benih," terangnya.
Jika panen sukses, sambung Karsomiharjo, hasilnya sekitar sembilan kuintal jagung pipil kering. Keluhan petani jagung pada umumnya, keuntungan yang diperoleh petani kini makin sedikit.
"Bahkan, petani akan mengalami kerugian apalagi kalau menyewa tenaga buruh untuk mengerjakan ladang atau memanen jagung. Sekarang jangankan menyewa buruh, kami bahkan tidak menghitung berapa biaya tenaga selama mengolah ladang jagung," ujarnya.
Idealnya, tegas Karsomiharjo, kenaikan biaya produksi seharusnya diimbangi dengan naiknya harga jual jagung. Itu hanya untuk mengimbangi biaya produksi, harga jagung pipil kering minimal Rp 2.600 setiap kilogram.
"Namun, tidak memiliki kemampuan untuk menaikkan harga hingga Rp 200 untuk setiap kilogram jagung. Harga juga tidak bisa dinaikkan, karena pedagang sudah kompak mematok harga jagung pada kisaran Rp 2.400 setiap kilogram. Ya tidak seimbang, paslnya biaya produksi terus saja naik," pungkasnya.

Sumber:RadarJogja

Read More......

Ketika Harga Jagung Stabil, Petani Masih Tetap Merugi Terpukul Kenaikan Harga Pupuk

Harga jual jagung pipil kering di Kabupaten Purworejo stabil, namun kondisi itu tidak membuat petani merasa nyaman. Pasalnya, petani jagung di Kabupaten Purworejo tidak mendapatkan hasil panen yang maksimal untuk musim kali ini.

HENDRI UTOMO, Purworejo PETANI Jagung, Kirmanto, 42, warga Bagelen, Kecamatan Purworejo mengatakan, harga jagung pipil kering di tingkat petani kini Rp 2.400 per kilogram. Harga itu bahkan sudah bertahan selama dua tahun terakhir.
"Ya harga jagung stabil namun biaya produksinya yang naik, harga pupuk urea misalnya kini sudah naik meski barang tersedia banyak," ungkap Kirmanto, Kamis (2/12) kemarin.
Petani lain, Karsomiharjo, 35, warga Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, menimpali, dirinya telah membudidayakan tanaman jagung pada lahan seluas seperempat hektare tepat di pinggir Jalan Daendels yang masih masuk wilayah desanya.
"Sekali musim tanam jagung saya membutuhkan sekitar 60 kilogram (1 zak) pupuk urea. Setiap zak pupuk urea kini harganya Rp 80 ribu," katanya.
Dikatakan Karsomiharjo, sejak bulan April 2010, pemerintah telah menaikkan harga pupuk urea bersubsidi dari Rp 65 ribu menjadi Rp 80 ribu setiap zak-nya. "Selain pupuk, harga benih jagung juga naik. Menamam jagung di lahan seluas seperempat hektare ini saja saya harus menyediakan lima kilogram benih jagung. Harganya Rp 60 ribu setiap kilogram benih," terangnya.
Jika panen sukses, sambung Karsomiharjo, hasilnya sekitar sembilan kuintal jagung pipil kering. Keluhan petani jagung pada umumnya, keuntungan yang diperoleh petani kini makin sedikit.
"Bahkan, petani akan mengalami kerugian apalagi kalau menyewa tenaga buruh untuk mengerjakan ladang atau memanen jagung. Sekarang jangankan menyewa buruh, kami bahkan tidak menghitung berapa biaya tenaga selama mengolah ladang jagung," ujarnya.
Idealnya, tegas Karsomiharjo, kenaikan biaya produksi seharusnya diimbangi dengan naiknya harga jual jagung. Itu hanya untuk mengimbangi biaya produksi, harga jagung pipil kering minimal Rp 2.600 setiap kilogram.
"Namun, tidak memiliki kemampuan untuk menaikkan harga hingga Rp 200 untuk setiap kilogram jagung. Harga juga tidak bisa dinaikkan, karena pedagang sudah kompak mematok harga jagung pada kisaran Rp 2.400 setiap kilogram. Ya tidak seimbang, paslnya biaya produksi terus saja naik," pungkasnya.

Sumber:RadarJogja

Read More......

2011, Distanhut Ajukan Kuota 25 Ribu Ton Urea

Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Purworejo mengajukan permohonan kuota pupuk urea bersubsidi sebanyak 25 ribu ton untuk tahun 2011. Pengajuan tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan kuota yang dialokasikan untuk Purworejo selama tahun 2010.

Selama tahun 2010, pemerintah mengalokasikan urea bersubsidi produksi PT Pupuk Sriwijaya sebanyak 28 ribu ton. "Memang lebih sedikit, namun diasumsikan jumlahnya tetap mencukupi kebutuhan petani di Purworejo," ujar Ir Dri Sumarno, Kepala Distanhut Purworejo, kepada KRjogja.com, Rabu (8/12).

Turunnya kuota yang diajukan pemkab, antara lain lantaran penggunaan pupuk kimia mulai berkurang. Menurutnya, sebagian petani sudah menyadari kerusakan tanah akibat terus menerus menggunakan pupuk kimia, sehingga kini mereka mulai menggunakan penyubur organik.

Meski demikian, ia berharap penetapan alokasi pupuk oleh pemerintah bersifat fleksibel. Jika setelah kuota ditetapkan, petani masih kekurangan pupuk, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo akan mengajukan tambahan alokasi. "Kami akan evaluasi terus, jadi jika memang kurang pasokan, akan langsung mengajukan tambahan kepada pemerintah provinsi," terangnya.

Menurutnya, kini sedikitnya 15 ribu hektare sawah di Kabupaten Purworejo sudah mulai menggunakan pupuk organik. Luasan tersebut mencapai separuh dari total tanaman padi selama satu musim, yakni seluas 29,6 ribu hektare. "Meski demikian, pertanian organik di Kabupaten Purworejo, belum bisa dilakukan seratus persen. Mereka juga masih menggunakan pupuk kimia untuk menyuburkan tanaman padi," ungkapnya.

Pupuk organik yang digunakan petani Purworejo berasal dari bantuan pusat serta swadaya. Kabupaten Purworejo mendapat alokasi bantuan pupuk organik dari pemerintah pusat, untuk sawah seluas 8.000 hektare. Sementara itu, petani pengolah sawah seluas sekitar 7.000 hektare, mendapatkan pupuk organik secara swadaya.

Sumber:KRjogja

Read More......

About This Blog

Blog ini berisi kumpulan berita dari berbagai sumber.

Terutama yang berhubungan dengan Purworejo.

Semoga bisa membantu anda mengenal kota ini lebih dalam.

Terimakasih.

Berita Purworejo 2010 Presented By d-_-b

Back to TOP