Tampilkan postingan dengan label Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Supriyanto, Tunanetra Pemanjat Pohon Kelapa

Purworejo: Keterbatasan fisik hendaknya tidak menjadi alasan seseorang untuk patah semangat dalam bekerja. Seperti diperlihatkan Supriyanto, warga Desa Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Meski tunanetra ia tetap bekerja, bahkan menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi tukang panjat pohon kelapa.

Lelaki berusia 53 tahun itu selalu bersemangat menjalani pekerjaannya demi mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga. Selain sering dimintai tolong tetangga untuk memetik kelapa, Supriyanto kadang juga memanjat pohon-pohon kelapa miliknya dan buahnya dijual ke pasar.

Pak Pri, demikian Supriyanto biasa dipanggil, setiap hari berkeliling kampung dengan ditemani anaknya dan sesekali juga sang cucu untuk mengambil buah kelapa di pohon yang rata-rata berketinggian 20 meter.

Menurut Pak Pri, jika harga kelapa sedang mahal dia bisa mengantongi uang sedikitnya Rp 100 ribu sehari. Namun, jika harga kelapa sedang turun, terkadang hanya mendapatkan Rp 20 ribu. Kalau musim penghujan, Pak Pri memilih berdiam di rumah. Dia tak berani memanjat pohon karena khawatir terjatuh.

Supriyanto bisa menjadi pemacu semangat bagi mereka yang berpenglihatan normal untuk tidak mudah menyerah pada keadaan. Penghalang atau rintangan yang menghadang bukanlah untuk dihindari, tetapi untuk diatasi.

sumber: liputan6

Read More......

Kamis, 10 Maret 2011

TPR Jatimalang Kembali Ditutup Warga


Warga Desa Jatimalang Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo kembali menutup tempat pemungutan retribusi (TPR) Pantai Jatimalang. Penutupan TPR tersebut menyebabkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo kembali kehilangan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Terhitung sejak Maret 2011, tidak ada satupun warga atau petugas Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Pariwisata (Dinhubkominpar) Purworejo yang menjaga TPR dan memungut retribusi tiket masuk objek wisata andalan Purworejo itu.

"Kami sepakat tidak lagi menjaga TPR Jatimalang, terhitung sejak Maret 2011, loket dibiarkan tanpa petugas," ucap Suwandi, Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Jatimalang, Kamis (10/3).

Suwandi menegaskan, penutupan TPR itu merupakan buntut adanya anggapan pengingkaran janji oleh Dinhubkominpar Kabupaten Purworejo. Selama Februari 2011, dinas beserta warga menjaga dan memungut retribusi wisata. Padahal, selama dijaga pada Februari 2011, TPR Jatimalang berhasil mendapat retribusi sedikitnya Rp 23 juta. Retribusi tersebut seluruhnya disetor kepada Pemkab Purworejo.

Menurutnya, sebelum kembali dijaga kembali warga beserta dinas, pemerintah telah menggelar pertemuan dengan perangkat desa. Dalam pertemuan pada akhir Januari tersebut, perwakilan desa kembali meminta adanya bagi hasil pembagian retribusi 70 % untuk PAD dan 30 % masyarakat Jatimalang.

"Kami minta syarat itu, dan disanggupi, sehingga TPR kembali dijaga dinas dan warga. Namun, saat ditagih pada akhir Februari, ternyata tidak diakui," bebernya.

Ditambahkan, dalam rapat tersebut memang warga tidak membuat kesepakatan tertulis. Warga lanjutnya, percaya dengan pernyataan kesanggupan secara lisan diungkapkan perwakilan dinas.

"Karena percaya, sehingga kami mau menjaga lagi. Saat itu juga diungkap, penjagaan TPR menjadi semacam ujicoba hingga diterbitkannya peraturan Bupati (Perbup) yang menjadi payung hukum bagi hasil antara Jatimalang dengan Pemkab," imbuhnya.

Dikatakan, tuntutan warga Jatimalang merupakan hal yang wajar. Menurutnya, warga memiliki peranan yang besar dalam membangun dan menjaga objek wisata Pantai Jatimalang. "Kalau ada kerusakan jalan atau sarana lain, warga juga yang memperbaiki secara swadaya," tandasnya.

Kini, lanjutnya, Jatimalang hanya menuntut adanya realisasi bagi hasil retribusi objek wisata 70 % : 30 % dengan Pemkab Purworejo. Selain itu, setiap libur Lebaran dan Tahun Baru, pengelolaan TPR harus dilakukan oleh warga. "Jika tidak bisa, sebaiknya dibiarkan saja tanpa penjaga," tegasnya.

Sementara itu, saat diminta konfirmasi, Kabid Pariwisata Dinhubkominpar Kabupaten Purworejo, Sumarno mengakui adanya penutupan TPR tersebut. Namun, ia menyatakan, persoalan tersebut kini juga ditangani oleh Wakil Bupati Purworejo. "Sudah ditangani Wakil Bupati," katanya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Ricuh, Eksekusi Rumah di Purworejo

Purworejo: Eksekusi tujuh rumah yang dihuni tujuh kepala keluarga di Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, belangsung ricuh, Kamis (10/3). Pihak tergugat terlibat baku hantam dengan juru sita Pengadilan Negeri Purworejo.

Eksekusi dilakukan karena para tergugat telah puluhan tahun tidak membayar uang sewa tanah. Menurut Bambang Winarso selaku kuasa hukum Kho Khi Wa dan Kho Khi In, para penyewa telah menunggak sewa sejak tahun 1972.

Meski sempat ricuh, eksekusi tanah seluas 1800 meter per segi tersebut akhirnya bisa dilakukan dengan penjagaan puluhan personil polisi dan Satpol PP. Para penyewa, Turman, Suroto, Cua Sheo Hok, Yong Pack Ghong, Febriyati, Yakup Supriyantoto, dan Timbul Gunadi, hanya bisa pasrah menyaksikan semua barang-barang mereka dikeluarkan dan diangkut menggunakan sejumlah truk ke Balai Kelurahan Purworejo.

Menurut Timbul, tindakan petugas PN Purworejo itu tidak berperikemanusiaan. "Saya dan keenam rekan sudah berkali-kali meminta kepada tim juru sita, untuk diberi tenggang waktu memberesi barang-barang yang ada. Namun tidak pernah digubris," sesalnya.

Sumber: liputan6

Read More......

Rabu, 02 Maret 2011

Video Panas Anggota FPAN DPRD dan Istri Bocor, Hebohkan Purworejo

Purworejo - Video panas wakil rakyat kembali beredar. Namun berbeda dengan video yang sudah-sudah, video yang menghebohkan warga Purworejo, Jawa Tengah, itu diperankan oleh sang politisi dan istri.

Dari penelusuran detikcom, Kamis (3/3/2011), diketahui sang politisi, berinisial IF, adalah anggota DPRD Puworejo dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN). Dia adalah anggota DPRD termuda dan anak tokoh ternama di Purworejo.

Sementara wanita tersebut, MH, merupakan istri sah dari pernikahan IF yang kedua. MH adalah anggota PNS Pemkab Purworejo.

Video yang berdurasi kurang lebih tiga menit itu sudah beberapa hari ini beredar di Purworejo. Sejumlah warga juga menyakini, 'aktor' dalam video tersebut adalahsang politisi yang dimaksud.

Bahkan Hartono, salah seorang teman dekat IF, membenarkan pemeran dalam video itu adalah IF dan MH. “Soal siapa yang menyebarkan video itu saya sama sekali tidak tahu. Siapa pun pelakunya, yang pasti yang menyebarkannya adalah orang yang benar-benar tidak bertanggung jawab,” kata Hartono.

Hanya saja, Hartono menuturkan, kepadanya IF pernah bercerita sempat menjual sebuah laptop, yang kemungkinan menjadi awal beredarnya video dokumentasi pribadi itu.

“IF itu orangnya suka teledor mungkin di dalam laptopnya file video yang sempat disimpan sudah dihapus. Tetapi saat dijual di folder recycle bin tidak dihapus oleh IF. Bisa jadi diambil pembelinya dan disebarkan kemana-mana video IF itu,” ungkap Hartono yang merasa kasihan dengan teman dekatnya itu.

Setelah tersebarnya video panas itu, Hartono juga berulangkali mendapat telepon dan didatangi beberapa pejabat serta rekan-rekan IF yang penasaran ingin melihat video itu.

“Tidak hanya saya saja. Bahkan IF juga sore tadi melalui telepon genggamnya mengeluh kepada saya kalau di kotak pesan Facebooknya banyak pesan masuk yang berisi tentang permintaan video mesum itu,” ujar Hartono.

Saat ditanya apakah IF akan melaporkan kejadian penyebaran itu ke polisi, Hartono menyatakan sampai saat ini belum ada niatan untuk melaporkan kasus penyebaran video itu ke polisi. “Sepertinya IF belum ada niatan untuk melaporkan peredaran video itu ke polisi. Dia sendiri merasa dilema sebab sudah masuk ke ranah kehidupan pribadinya,” tutur Hartono.

Saat detikcom berusaha mengkonfirmasi IF, ponselnya dalam kondisi aktif. Namun, dia tidak mengangkatnya. Menurut Hartono, posisi IF saat ini sedang rapat bersama seluruh anggota dan pimpinan DPRD Purworejo di Yogyakarta.

sumber: detikNews

Read More......

Jadi Korban, Anggota DPRD Purworejo Didorong Segera Lapor Polisi

Jakarta - DPP Partai Amanat Nasional (PAN) sudah mendengar kabar beredarnya video panas seorang anggota DPRD Purworejo bersama istrinya. DPP PAN mendorong agar sang anggota DPRD dari PAN itu segera melapor ke polisi sebagai korban.

"Kami menyesalkan kejadian ini. Kami tegaskan dia adalah korban, bukan pelaku kejahatan. Jadi kami mendorong dia melapor ke polisi sebagai korban," kata Ketua DPP PAN Tjatur Sapto Edy, Kamis (3/3/2011).

Tjatur yang merupakan anggota legislatif dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah VI (Magelang, Temanggung, Purworejo, Wonosobo) mengaku telah menghubungi langsung sang anggota DPRD itu, Iwan Fajarudin. Informasi yang disampaikan Iwan, bahwa video panas bersama istri sahnya itu merupakankoleksi pribadi yang pernah dia simpan di laptopnya.

"Itu koleksi pribadi dengan istri sahnya. Dia tidak punya niat sama sekali agar video itu diketahui oleh orang lain. Dia menjadi korban," jelas Tjatur.

Menurut Tjatur, Iwan mengaku video panas itu sebenarnya sudah ia hapus dari laptopnya, sebelum laptop itu ia jual. "Tapi di recycle bin, belum kehapus. Jadi sepertinya direstore lagi oleh si pembeli laptop. Saya sudah minta dia membuat kronologi dan lapor polisi," ujar politisi muda yang kini menjabat sebagai Ketua FPAN DPR itu.

Bagi Tjatur, dalam kasus ini, tidak ada pelanggaran sama sekali yang dilakukan Iwan. "Tidak ada unsur melawan hukum, baik itu UU Anti Pornografi maupun UU ITE. Dia hanya teledor yang tidak disengaja, karena tidak menghapus di recycle bin itu. Karena itu, polisi harus cari tahu siapa yang menyebarkan itu," kata alumnus ITB yang kini menjabat wakil ketua Komisi III DPR tersebut.

Tjatur memastikan tidak ada unsur politik internal terkait beredarnya video panas itu. Dia menegaskan hal ini karena beberapa hari mendatang akan digelar Musda PAN untuk memilih ketua DPD PAN Purworejo yang baru. Iwan Fajarudin merupakan salah seorang calon ketua yang akan maju.

"Tidak ada unsur politik, termasuk terkait Musda PAN nanti. Iwan juga tetap bisa maju sebagai calon ketua, meski sedang ada kasus ini," terang Tjatur.

Sumber: detikNews

Read More......

Video Panasnya Beredar, Iwan Sempat Dipanggil Pimpinan DPRD Purworejo

Purworejo - Anggota DPRD Kabupaten Purworejo dari FPAN, Iwan Fajarudin, mengaku dipanggil pimpinan DPRD Kabupaten Purworejo pasca beredar video panas Iwan bersama istrinya, MH. Pemanggilanya terkait permintaan pimpinan Dewan untuk mengklarifikasi bocornya video panas tersebut.

Bahkan, Iwan terpaksa menghadirkan Hartono untuk menjadi saksi di depan pimpinan Dewan bahwa wanita yang ada di dalam video itu adalah benar-benar istri sahnya.

Dari hasil pertemuan yang dilakukan pada Selasa (2/3/2011) siang kemarin disimpulkan agar Iwan diberikan tugas untuk mencari siapa sebenarnya penyebar dan pembocor video mesumnya. Sebab video tersebut saat ini sudah menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut masyarakat Purworejo.

"Saya Disuruh mencari yang mencemarkan nama saya dan yang menyebarkan video saya dan istri. Masih saya cari dan untuk infromasi awalnya dari mana itu berangkat? Setelah saya cek ricek ternyata dari kalangan Dewan. Dugaan kuat seseorang itu yang sengaja untukmemperlihatkan ke beberapa temen-temen," kata Iwan saat dihubungi detikcom, Kamis (3/2/2011).

Iwan menyatakan bocornya video panasnya bersama istrinya itu adalah sebuah kecelakaan, dan dirinya merasa menjadi korban.

Dia juga merasa sangat menyesal atas keteledoran tersebut mengapa saat menjual laptopnya di salah satu mall di Kabupaten Purworejo tidak melakukan cek dan ricek laptopnya.

"Keteledoran dan kebodohan saya saat menjual laptop. Saya tidak menghapus bersih file-file saya yang ada di laptop. Termasuk yang ada di recycle bin-nya. Akhirnya, file video saya itu dimanfaatkan untuk menjatuhkan saya menjelang musyawarah DPD PAN Tingkat II Purworejo," kata Iwan.

Iwan berencana sore ini akan ke Polres Purworejo untuk berkonsultasi dengan pihak kepolisian sampai sejauh mana kasus ini.

"Sore nanti atau besok sore saya akan ke Polres untuk koordinasi lebih dulu dengan polisi setelah rapat," jelas Iwan sambil menyatakan dirinya saat ini masih berada di Yogyakarta untuk mengikuti rapat sebagai anggota Dewan.

Iwan menyadari bahwa itu salah satu bagian dari ujian serta konsekuensi dirinya berkecimpung di dunia politik. Menurutnya butuh waktu yang tidak sebentar mengembalikan namanya di mata masyarakat.

"Akan butuh waktu lama untuk memperbaiki nama saya yang sengaja dijatuhkan oleh rival politik saya dengan cara tidak fair ini," ujar Iwan.

Sumber: detikNews

Read More......

Jumat, 04 Februari 2011

Investor Belanda Lirik Potensi Purworejo


Seven Seas, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang perikanan berkedudukan di Belanda mulai melirik potensi kawasan selatan Kabupaten Purworejo. Perusahaan ini konon mampu memasok ikan dan udang ke berbagai supermarket di negara-negara Eropa dan Amerika.

Para investor yang datang ke Purworejo masing-masing Wouter van de groep, Wijnat va de groep, dan Gerrit Morgen. Mereka diterima Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg, di kantor Bupati, Jumat (4/2).

Ikut mendampingi H Mahsun Zain, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ir Fatori, Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Ir Sunoto, beserta Kabag Humas Setda Purworejo Drs Joko Saptono.

Dalam kesempatan itu, Mahsun Zain menyatakan bahwa Purworejo selama ini telah membuka diri bagi investor manapun yang ingin menanamkan modalnya. “Silakan berinvestasi di Purworejo, sepanjang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah kabupaten (pemkab) pasti akan mendukung,” katanya.

Dalam pertemuan itu terungkap bahwa untuk memasok udang ke pasar swalayan, selama ini investor itu mengambil barang dari Vietnam dan Thailand. Saat ini mereka membutuhan udang antara 500-1000 ton per tahun. “Bila kebutuhan ini bisa disuplai dari sini, pihaknya akan mengambil udang dari Purworejo,” jelas Joko Saptono, Kabag Humas.

Sumber:KRjogja

Read More......

Kamis, 13 Januari 2011

Penertiban PKL Libatkan Polres dan Dishubkomipar

Penertiban pedagang kaki lima (PKL) oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kabupaten Purworejo terus berlanjut. Bahkan pada hari ketiga, Kamis (13/1), dalam penertibkan PKL ini Satpol PP melibatkan Polres Purworejo dan Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Pariwisata (Dishubkomipar).

“Kita libatkan Polres dan Dishubkomipar, karena lembaga ini ada keterkaitannya dengan keberadaan PKL,” jelas Kepala Satpol PP Purworejo Tri Joko Pranoto SSos.

Penertiban ini berlanjut hingga jalur-jalur gang atau longkangan di Terminal Kongsi Purworejo. Di jalur sempit ini dipenuhi PKL, padahal jalur utama masuk terminal Angkutan Pedesaan (Angkudes). “Kita libatkan Dishubkomipar dan Polres karena memiliki kewenangan mengatur jalur dan keamanan lalu lintas,” jelas Tri Joko Pranoto.

Selain di Jalan Longkangan Terminal Kongsi, penertiban PKL juga dilakukan di seputar Alun-alun Purworejo. “Di Alun-alun sudah diberi kelonggaran berdagang sejak sore hingga dini hari. Tapi pada pagi hari semua harus bersih. Mereka yang tidak memberesi perangkat berdagang, atau tetap berdagang terpaksa kita angkut,” jelas Tri Joko Pranoto.

Sumber: Krjogja

Read More......

Satu Warga Purworejo Meninggal Akibat Malaria

Satu orang meninggal dunia dan puluhan lainnya membutuhkan perawatan medis akibat serangan malaria di Purworejo, Jawa Tengah. Trimah, misalnya. Warga Semono, Kecamatan Bagelen, Purworejo, itu masih tergeletak di tempat tidur dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa.

Sudah dua hari, Trimah terserang malaria. Sehari sebelumnya, Egy telah meninggal dunia akibat malaria. Ia sempat diperiksa ke Puskesmas terdekat.

Demi mengantisipasi meluasnya wabah itu, warga dan petugas Dinas Kesehatan Purworejo bergotong royong membersihkan tempat-tempat yang mudah dihinggapi nyamuk . Mereka juga diberi penyuluhan, seperti menjemur kasur di halaman rumah. Masyarakat diimbau agar melakukan hidup sehat, dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan.

Sumber: Liputan6

Read More......

Rabu, 12 Januari 2011

Ribuan Rumah di Purworejo Tidak Layak Huni


Ribuan rumah di 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo masuk kategori tidak layak huni. Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Bapermades) Kabupaten Purworejo mendata, sedikitnya terdapat 33.803 unit rumah tidak layak huni di wilayahnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo melakukan pendataan pada pertengahan tahun 2010. Meski terdata mencapai 33 ribu, kemungkinan jumlah tersebut masih bisa bertambah. "Jumlahnya bisa bertambah, sebab, semua terkait dengan kondisi ekonomi masyarakat," tutur Sutrisno, Kepala Bapermades Purworejo, kepada KRjogja.com, Rabu (12/1).

Untuk mengurangi jumlah tersebut, Pemkab Purworejo melakukan program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) setiap tahun. Selama tahun 2011, APBD Kabupaten Purworejo akan mengalokasikan bantuan stimulan untuk rehabilitasi 40 unit rumah. Namun, Bapermades Purworejo belum menentukan nama desa penerima bantuan, lantaran menunggu pengumuman desa berprestasi pada pertengahan tahun 2011.

Rencananya bantuan tersebut akan dialokasikan untuk empat desa. Setiap RTLH yang diusulkan desa penerima, akan mendapat bantuan senilai Rp 3 juta. Jika dana tersebut tidak cukup, masyarakat sekitar akan diminta ikut berswadaya membantu pembangunannya.

Selain mengalokasikan dana APBD, Pemkab Purworejo juga mengupayakan adanya bantuan dari pemerintah pusat. Pemerintah berencana menggelar Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perumahan dan Pemukiman. "RTLH sebanyak 33.803 unit itu merupakan data awal yang diajukan kepada pemerintah pusat dalam rangka rencana pelaksanaan PNPM tersebut," imbuhnya.

Dikatakan Sutrisno, sektor swasta juga bisa ambil bagian dalam program rehabilitasi rumah di Kabupaten Purworejo. Perusahaan memiliki program Coorporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial terhadap lingkungan lokasi menjalankan usaha. "Perusahaan bisa mengalokasikan program CSR antara lain untuk rehab rumah," ucapnya.

Sumber: KRjogja

Read More......

Duh Gusti.... PSK di Purworejo Tambah Banyak

Jumlah pekerja seks komersial (PSK) dan gelandangan di Kabupaten Purworejo sejak beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan cukup tajam. Bahkan khusus untuk PSK diprediksikan mengalami peningkatan hingga sekitar 115 persen jika dibanding lima tahun lalu.

“Ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat, dan masalah yang sangat klise, tuntutan ekonomi,” jelas Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertranssos) Purworejo Sumharjono Ssos MM di Purworejo, Rabu (12/1).

Tanpa menyebutkan angka riil, Sumharjono mengatakan, para PKS yang berkeliaran di Purworejo sebagian juga bukan warga asal Purworejo. Hal ini dapat dilihat pada setiap kegiatan operasi. “Dari identitas mereka (KTP) banyak yang berasal dari luar Purworejo,” katanya.

Kondisi yang sama juga terjadi pada gelandangan yang diprediksikan mengalami peningkatan, meskipun tidak sebanyak PSK. “Kaum gelandangan mengalami peningkatan sekitar 18 persen. Itu pun sebagian juga berasal dari luar Purworejo,” jelasnya.

Untuk menangani masalah sosial ini kata Sumharjono, pihaknya bersama instansi terkait selalu berupaya melakukan razia, dan berupaya menyadarkan mereka. “Namun karena keterbatasan sarana dan prasarana pembinaan maupun pelatihan, sebagian diantara mereka juga dilepas kembali,” jelasnya.

Sumber:KRjogja

Read More......

Senin, 10 Januari 2011

Mbah Giyo Tinggal Bersama Kerbau Sejak Kecil

Akibat himpitan ekonomi dan kemiskinan, seorang kakek warga Sukokebokuning, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, terpaksa bertahun-tahun tidur di kandang kerbau. Selain faktor ekonomi, sang kakek terpaksa tinggal di kandang karena tak punya keluarga.

Kakek malang bernama Mbah Giyo mengaku terbiasa makan dan tidur di kandang sejak kecil. Kerbau-kerbau yang sering dipelihara oleh Mbah Giyo ini juga bukan miliknya melainkan milik beberapa pedagang ternak yang menitipkan untuk dipelihara sebelum laku terjual.

Meski hidup dengan kerbau dan hanya beraktivitas mencarikan rumput untuk pakan, Mbah Giyo mengaku cara hidupnya ini lebih tenang. Bahkan karena sejak kecil hidup bersama kerbau, tak jarang warga sekitar memberikan julukan "Manusia Kerbau" kepada kakek 70 tahun ini.

Entah karena himpitan ekonomi atau mengalami kelainan, selain tidak mau berkeluarga, Mbah Giyo jarang bergaul dengan warga sekitar. Namun yang jelas kehidupan Mbah Giyo ini hanya sebagian potret kecil di antara jutaan rakyat miskin yang masih ada di Indonesia.

Sumber: Liputan6

Read More......

Jumat, 24 Desember 2010

Pemkab Purworejo Minta Tambahan Kuota 100 %

Purworejo, CyberNews. Menjelang perayaan Natal dan tahun baru 2011, permintaan gas elpiji ukuran 3 kilogram mengalami lonjakan drastis. Itu dikarenakan banyak masyarakat dari luar daerah yang datang ke Purworejo untuk merayakan liburan. Selain itu, masyarakat juga banyak yang menggelar hajatan.

Untuk mengantisipasi kelangkaan, Plt Kepala Disperindagkop Drs H Said Romadon mengatakan, pihaknya sudah mengajukan penambahan kuota ke Pertamina selama bulan Desember ini.

"Setiap bulannya kebutuhan elpiji masyarakat di Purworejo dalam kisaran 25 ribu hingga 28 ribu tabung ukuran 3 kilogram. Kami minta tambahan 100 % dari jumlah itu dan SPBE kami minta tetap melayani meskipun hari libur. Alhamdulillah permintaan itu disetujui Pertamina," kata birokrat yang secara definitif menjabat Assek II ini.

Dari pantauan, permintaan gas elpiji ukuran tabung tiga kilogram meningkat selama Desember ini. Akibatnya, dua pekan lalu masyarakat sempat kesulitan mendapatkan gas. Banyak pangkalan resmi warung pengecer sempat kehabisan stok. Kalaupun ada, harganya jauh lebih mahal.

Beberapa pengecer bahkan menjual dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET). Terutama di pelosok pedesaan bahkan harganya bisa mencapai Rp 14.000 per tabung.

Namun, kondisi itu bisa teratasi setelah penambahan kuota itu direalisasikan. Para pengecer tidak lagi kehabisan stok dan masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan gas. "Sepertinya sekarang sudah normal," ujar Ana (27), salah satu ibu rumah tangga.

Pemilik pangkalan resmi di Kelurahan Sindurjan Harun, mengatakan, permintaan elpiji meningkat beberapa hari terakhir. Setiap hari, seratus tabung elpiji yang didapatnya dari agen resmi, habis dibeli konsumen. "Biasanya, sehari habis sekitar 75 tabung, namun sekarang seratus tabung langsung habis," katanya.

Menurutnya, tidak ada pengurangan pasokan dari agen resmi Pertamina. Bahkan, pasokan untuk pangkalannya sudah mengalmi penambahan pasca diberlakukannya rayonisasi elpiji pada Juni 2010. Sebelum rayonisasi, ia hanya mendapat pasokan sekitar 60 tabung elpiji tiga kilogram dari agen.

Sumber:Suara Merdeka

Read More......

Rabu, 15 Desember 2010

Perajin Terompet Mulai Kebanjiran Pesanan

Purworejo: Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, para perajin terompet di Purworejo, Jawa Tengah, mulai kebanjiran pesanan, Rabu (15/12). Yuli Kurniawan, misalnya, warga Kelurahan Pangen, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, ini mengaku mulai kebanjiran pesanan sejak sebulan terakhir.

Yuli mengaku mendapat permintaan pembuatan terompet hingga 2.000 buah yang datang dari dalam maupun luar daerah seperti Temanggung, Magelang, dan Wonosobo. Berbagai model ditawarkan demi memenuhi hasrat konsumen, mulai dari terompet model naga, bucu, maupun ular. Harga yang dipatok pun tergolong lebih mahal dibandingkan hari biasa, yakni antara Rp 3.000 hingga Rp 25.000 per buah.

Menurut Yuli, model yang paling banyak diminati adalah terompet model naga. Khusus terompet model saksofon, burung, drumband; konsumennya terbatas pada anak-anak. Dalam pembuatan terompet, kata Yuli, dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran selain memiliki keterampilan khusus. Tidak jarang, kendala sering dihadapi, seperti keterbatasan tenaga kerja.

Sumber:Liputan6

Read More......

Pertumbuhan Penduduk Purworejo Minus 0,15 Persen


Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Purworejo setiap tahunnya selama sepuluh tahun terakhir mengalami minus 0,15 persen. Akibatnya jumlah penduduk juga mengalami penurunan dari sekitar 700 ribu jiwa menjadi 694.404 jiwa.

"Ini masih berdasar penghitungan cepat dari hasil sensus penduduk 2010. Sedang akuratnya masih disusun. Namun jumlah itu sudah mendekati kebenaran,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Purworejo Drs M Isbani dalam sosialisasi hasil sensus penduduk 2010 yang berlangsung di Hotel Plaza Purworejo, Rabu (15/12).

Sosialisasi ini diikuti para perwakilan dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan para camat se Purworejo. Dari jumlah penduduk itu menurut Isbani, 342.957 diantaranya laki-laki dan 351.447 perempuan.

Dari hasil sensus itu pula lanjut Isbani, penyebaran penduduk Purworejo tidak merata. “Penyebaran penduduk masih bertumpu di Kecamatan Purworejo, yakni sebesar 8,37 persen atau 83.174 jiwa,” katanya.

Sedang kepadatan kedua di Kecamatan Kuktoarjo dengan jumlah penduduk mencapai 58.103 jiwa. Dan wilayah Kecamatan Bagelen, Kaligesing serta Ngombol, merupakan tiga kecamatan dengan urutan terbawah yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit masing-masing 28.658 jiwa, 29.172 jiwa, dan 30.714 jiwa.

Melihat dari luas wilayah Purworejo sekitar 1084,74 kilo meter persegi yang dihiai 694.404 jiwa, maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Purworejo sebanyak 640 orang per kilo meter persegi.

Sumber:KRjogja

Read More......

Senin, 13 Desember 2010

Warga Gemar Jual Tanah-Batu sebagai Media Tanam


Pada umumnya, warga memilih mengolah tanah perbukitan sebagai media penanaman dan budidaya tanaman produktif. Namun, sebagian warga desa di Kecamatan Kemiri Utara memanfaatkannya dengan cara lain. Warga memilih “menjual” bukit yang memiliki konsturksi tanah dan batu sebagai bahan media tanam dan bangunan.
Bahkan hingga saat ini, aktivitas pengerukan tanah dan penambangan batu secara manual itu masih marak berlangsung. Pemerintah desa mengaku tidak menutup mata dengan ekses yang ditimbulkan, khususnya untuk keselamatan warga sendiri ketika mengeruk dan menambang batu saat musim penghujan. Kendati demikian secara jamak tidak ada larangan tegas dari pemerintah desa.
Pihak desa justru melegalkan aktivitas warga dalam memperlakukan tanahnya untuk dijual per truk. Awalnya banyak warga yang ingin bermukim di sekitar bukit, mereka-pun melakukan pemangkasan tebing-tebing sebelum akhirnya didirikan rumah.
"Namun di kemudian hari, tanah-tanah yang dulunya hanya dibuang untuk menguruk lahan yang kosong, ternyata banyak yang membutuhkan. Tidak terkecuali batu gunung yang kebanyakan berada di bawah lapisan tanah, kini juga memiliki nilai jual tinggi," ungkap Sukoyo warga Kedung Lo, Kecamatan Kemiri, Minggu (12/12) kemarin.
Dikatakan Sukoyo, tanah dijual dengan sistem rit. Satu rit sama dengan satu truk pengangkut kayu harganya Rp 30.000 setiap truk-nya. Sementara material batu gunung memiliki nilai jual yang lebih, yakni satu truk batu gunung terjual Rp 180.000 setiap truk.
"Tanah di perbukitan itu kan banyak milik person (warga perorangan,red). Dan di sini lebih banyak yang ditambang dibanding ditanami. Jika bukit itu sudah rata maka akan digunakan untuk membangun rumah, jika dijual harganya juga masih tinggi," imbuhnya.
Kepala Desa Kedung Lo Misroni menambahkanaktivitas penambangan batu dan tanah itu sebetulnya beresiko jika dilakukan secara manual terlebih pada musim penghujan. Meski demikian, masih banyak warga yang tetap nekad menambang batu dengan cara tradisional. Aktivitas pengerukan tanah di bukit-bukti Desa Kedung Lo berlangsung sudah sejak tahun 1999 dan mulai marak tahun 2000.
"Kami sulit melarang. Karena yang ditambang lantas dijual itu tanah milik warga secara pribadi. Sebetulnya akan lebih baik dan aman jika penambangan itu menggunakan alat," ujarnya.
Dikatakan Misrono, aktivitas pengerukan dan penambangan batu itu akan mengancam hilangnya bukit-bukit di Kemiri utara namun juga memiliki nilai positif. Pengerukan bukit itu dinilai mampu mengurangi potensi bencana longsor, selain itu juga memiliki danmpak yang baik untuk tambahan nafkah warga.
"Tanah biasanya dipesan oleh usaha pembibitan pohon yang juga banyak di Kecamatan Kemiri. Selain itu juga dimanfaatkan sebagai menutup tanah di dataran rendah yang biasanya untuk pemukiman. Kalau batu-nya tentu saja untuk bahan bangunan, jenis batuannya bagus," ucap Misroni.
Cara penambangan dilakukan dengan cara dipahat atau diganco. Bentuk batu gunung yang dihasilkan juga lebih simetris dan pipih-pipih serta pas jika digunakan sebagai material bangunan atau pondasi rumah. "Kalau aslinya batu-batu itu segede gajah atau rumah namun warga bisa mengakalinya," ucap Misroni.
Lebih lanjut dijelaskan, luas tanah di Desa Kedung Lo kurang lebih 300 hektare. Sejumlah 21 hektare berupa perbukitan dan hingga saat ini diizinkan untuk dikeruk dan dijual. "Penambangan tanah dan batu itu sudah masuk kategori galian C. Dan tanah di sini cukup mahal termasuk setelah dikepras (dikerung,red). Tanah di bawah bukit itu masih tetap subur," cetusnya.
Camat Kemiri, Sudaryono menambahkan, sedikitnya ada tiga desa di wilayah Kemiri bagian utara yang warganya senang menjual batu dan tanah. Yakni Desa Rebo, Wonosuko dan Kedung Lo. "Imbauan kami warga tetap memperhatikan keselamatan, khususnya jika melakukan penambangan di musim hujan seperti saat ini. Ke depan mungkin juga dibutuhkan prosedur yang baik untuk melindungi warga dari berbagai kemungkinan ekses negatif dari penambangan itu," tandasnya.
Salah satu warga Kedung Lo, Wikromo, 50, mengungkapkan, warga sudah sangat biasa dengan aktivitas penambangan batu di perbukitan. Batu yang digali dan dijual itu termasuk batu dan tanah warga. "Setelah rata tanah bisa digunakan untuk pendirian rumah. Kalau dijual juga masih laku keras karena kebanyakan di pinggir jalan," ungkapnya.

Sumber:Radarjogja

Read More......

Sakit, Seorang Jamaah Haji Purworejo Masih Dirawat di Jeddah

Seorang jamaah haji asal Kabupaten Purworejo Hj Sri Sawiyah binti Amat Ngasirin (65) warga Desa Dukuh Dungus RT 03/RW03 Kecamatan Grabag hingga kini belum dapat kembali ke tanah air. Yang bersangkutan terpaksa tidak bisa terbang bersama kelompoknya karena menderita sakit.

“Hj Sri Sawiyah kini masih mendapat perawatan dan dibawah pengawasan Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Jeddah,” ujar Kepala Staf Penyelenggaraan Ibadah Haji Purworejo Drs H Khozin Sukardi MAg pada acara penerimaan jamaah haji oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo di pendapa rumah dinas bupati setempat, Senin (13/12).

Sementara itu menurut seorang pembimbing haji daerah (PHD) Purworejo H Dandung Danadi, para jamaah haji tahun ini dari Kabupaten Purworejo sebanyak 682 orang, sebagian besar usainya sudah terbilang tua. “Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini terhitung paling banyak yang meninggal dunia karena faktor usia,” katanya.

Dari 682 jamaah, lima orang diantaranya meninggal dunia dan dimakamkan di Mekkah, sedang seorang lagi belum kembali karena sakit. Lima jamaah yang meninggal itu diantaranya Hj Subiyati (63) warga Kelurahan Pangenjurutengah Kecamatan Purworejo, Hj Sa’adah (67) warga Desa Krendetan Kecamatan Bagelen, H Isman (77) warga Desa Loning Kecamatan Kemiri, H Amat Dasuki (87) warga Desa Tunggulrejo Kecamatan Grabag, dan Hj Suparmiyati (57) warga Desa Sidomulyo Kecamatan Purworejo.

Sumber:Krjogja

Read More......

Minggu, 12 Desember 2010

Lupa KTP, Gagal Ikut Tes

PURWOREJO – Seorang peserta tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) harus pulang dengan penuh sesal. Gara-gara lupa membawa KTP asli, peserta itu pun ditolak ikut tes. "Ya, tadi ada satu peserta yang lupa membawa KTP. Kalau tidak salah dari Sleman (Jogjakarta). Ya tidak bisa ikut karena itu aturan baku, sebetulnya kasihan juga sudah jauh-jauh tapi sudah peraturan mau gimana lagi," ujar Plt Sekda Purworejo Tri Handoyo, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Bambang Aryawan, saat melakukan pemantauan, Minggu (12/12) kemarin.
Peristiwa itu terjadi di SMP N 2 Purworejo, salah satu lokasi pelaksaan tes tertulis. Dalam ketentuan memang ditegaskan bahwa setiap peserta diwajibkan mengikuti prosedur dan tata cara pelaksanaan yang sudah ditentukan. Syarat yang harus dipenuhi di antaranya, setiap peserta harus datang 15 menit sebelum pelaksanaan ujian, peserta juga harus membawa kartu ujian lengkap dengan KTP asli untuk mencocokan kebenaran identias.
Kejadian tersebut mewarnai pelaksanan tes tertulis CPNS yang digelar serempak di seluruh Provinsi Jawa Tengah Minggu (12/12) kemarin. Termasuk di Kabupaten Purworejo, kabupaten maupun kota Magelang.
Di Purworejo, 4.606 peserta kemarin menentukan nasibnya dengan menjalani tes di 12 sekolahan dan menempati 267 ruang kelas. Pelaksaan tes tertulis CPNS tahun 2010 ini juga berlangsung hanya sehari. Tes dimulai pukul 08.30 tepat dan berakhir pada pukul 14.00. Dibagi dua sesi. Sesi pertama peserta mengerjakan tes akademis, sesi kedua peserta mengerjakan soal psikotes.
"Tes kedua dimulai pukul 11.00 dan berakhir pukul 14.00, secara umum berdasarkan pantauan kami, proses tes tertulis berjalan lancar," ungkap Tri Handoyo.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertekrutan CPNC Kabupaten Purworejo sama dengan Kabupaten lain yang dibanjiri pelamar. Pesertanya tentu saja tidak hanya dari Purworejo saja, tetapi juga dari luar kabupatan dan daerah.

Sumber:Radarjogja

Read More......

Kontes Kambing Etawa Rebut Rp 10 Juta

Liputan6.com, Purworejo: Sekitar 300 peternak kambing ras Etawa dari berbagai daerah mengikuti kontes kambing Etawa tingkat nasional di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Sabtu (11/12). Kontes ini sekaligus sebagai ajang untuk menaikkan kualitas dan harga jual kambing Etawa.

Para peserta berduyun-duyun datang untuk memperebutkan Piala Bupati Purworejo serta hadiah uang senilai Rp 10 juta. Meski tingkat nasional, peserta cuma berasal dari Pulau Jawa. Sebab populasi kambing Etawa belum berkembang di sejumlah daerah luar Pulau Jawa.

Dalam kontes kali ini dewan juri menggunakan beberapa kategori dalam menentukan juara. Di antaranya keindahan kepala, ukuran telinga, keseimbangan tubuh, kelincahan serta postur tubuh kambing. Dan hampir semua kriteria itu dipenuhi kambing-kambing milik Suparyono. Warga Desa Miri Gambar, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur keluar sebagai juara umum.

Ratusan kambing Etawa yang mengikuti kontes rata rata memiliki nilai jual sangat tinggi. Satu ekor kambing mencapai Rp 30 juta hingga Rp 100 juta.(AIS)

Read More......

About This Blog

Blog ini berisi kumpulan berita dari berbagai sumber.

Terutama yang berhubungan dengan Purworejo.

Semoga bisa membantu anda mengenal kota ini lebih dalam.

Terimakasih.

Berita Purworejo 2010 Presented By d-_-b

Back to TOP